Jangan Sibuk Cari Tanda Lailatul Qadar, Fokuslah Memperbanyak Ibadah

Jangan Sibuk Cari Tanda Lailatul Qadar, Fokuslah Memperbanyak Ibadah

Fokus saja beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadan. Jika kita menghidupkan semua malam itu dengan ibadah, insya Allah kita akan mendapatkan Lailatul Qadar,

Oleh Anwar Aras 


Menjelang waktu berbuka puasa pada Rabu (11/3/2026), jamaah di Masjid Azura Kemang, Bogor, mendapatkan tausiyah yang sarat makna dari Ustadz Dr. Samsul Basri, S.E., M.E.I. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan pentingnya memaksimalkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama dalam upaya meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar.

Ustadz Samsul menjelaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang sangat agung dalam Islam. Pada malam itu, para malaikat turun ke bumi dengan membawa berbagai ketetapan Allah untuk satu tahun ke depan. Malaikat Jibril ‘alaihissalam, yang dikenal sebagai Ruhul Amin, memiliki kedudukan istimewa karena dialah yang diberi amanah oleh Allah untuk menyampaikan wahyu Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad ﷺ selama lebih dari dua dekade masa kenabian.

Menurutnya, penyebutan Malaikat Jibril secara khusus dalam Al-Qur’an menunjukkan kemuliaan dan kedudukannya di antara para malaikat. Pada malam Lailatul Qadar pula, berbagai takdir manusia dibacakan dari kitab ketetapan Allah dan dicatat oleh para malaikat untuk satu tahun mendatang.

Namun demikian, manusia tetap diperintahkan untuk berusaha mengambil sebab-sebab kebaikan. “Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu tugas kita adalah mengambil sebab terbaik: memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan bertawakal kepada Allah,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Oleh sebab itu, umat Islam hendaknya menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah yang lebih intens.

Dalam rangka menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan, Masjid Azura juga menyiapkan sejumlah program ibadah. Salah satunya adalah pembacaan kisah-kisah orang saleh setelah shalat tarawih sebagai inspirasi bagi jamaah untuk meneladani kehidupan para ulama dan generasi terbaik umat Islam.

Selain itu, jamaah dianjurkan untuk memperbanyak qiyamul lail, membaca Al-Qur’an beserta terjemahannya, memperbanyak dzikir, sedekah, dan doa. Ia menyarankan program sederhana namun konsisten, seperti membaca tiga lembar Al-Qur’an beserta terjemahannya setiap hari agar jamaah tidak hanya membaca, tetapi juga memahami maknanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengurangi aktivitas yang tidak bermanfaat selama sepuluh malam terakhir, seperti terlalu banyak menggunakan telepon genggam, menonton, atau mengobrol tanpa tujuan. Menurutnya, kesempatan sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu yang sangat berharga dan tidak sepatutnya terlewat begitu saja.

Selain ibadah spiritual, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Umat Islam dianjurkan menikmati rezeki halal dengan cara yang wajar dan tidak berlebihan, termasuk dalam hal makan dan konsumsi selama Ramadan.

Ia juga mengutip pendapat ulama besar Ibnu Taimiyah mengenai keutamaan sering berinteraksi dengan Al-Qur’an. Menurutnya, orang yang sering membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an akan mendapatkan banyak manfaat, di antaranya kecerdasan yang semakin kuat, kemudahan dalam beribadah, kesehatan fisik, serta ketenangan hati.

Di akhir tausiyahnya, Ustadz Samsul mengingatkan bahwa fokus utama seorang muslim bukanlah mencari tanda-tanda Lailatul Qadar, tetapi memperbanyak ibadah pada malam-malam tersebut. Dengan demikian, seorang hamba dipastikan akan mendapatkan bagian dari keberkahan malam itu.

“Fokus saja beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadan. Jika kita menghidupkan semua malam itu dengan ibadah, insya Allah kita akan mendapatkan Lailatul Qadar,” tutupnya di hadapan jamaah Masjid Azura.


Sebelumnya :