• +62852-9938-0971

Pembelajaran Jarak Jauh akan Permanen, Bagaimana Nasib Sekolah & Pesantren

Pembelajaran Jarak Jauh akan Permanen, Bagaimana Nasib Sekolah & Pesantren

Jika PJJ akan dipermanenkan, bagaimana nasib gedung-gedung megah yang dimiliki kampus-kampus kita?  

Oleh:

 Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)


            Pada 2 Juli 2020, media massa di Indonesia diramaikan dengan berita tentang pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), bahwa seusai pandemi Covid-19, maka Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akan diterapkan secara permanen. Menurut analisis Kemendikbud, pemanfaatan teknologi dalam kegiatan belajar-mengajar akan menjadi hal yang mendasar.


"Pembelajaran jarak jauh ini akan menjadi permanen. Bukan pembelajaran jarak jauh pure saja, tapi hybrid model. Adaptasi teknologi itu pasti tidak akan kembali lagi," kata Nadiem dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR, seperti dikutip kompas.com.     Dia mengatakan, pemanfaatan teknologi ini akan memberikan kesempatan bagi sekolah melakukan berbagai macam model kegiatan belajar. "Kesempatan kita untuk melakukan berbagai macam efisiensi dan teknologi dengan software dengan aplikasi dan memberikan kesempatan bagi guru-guru dan kepala sekolah dan murid-murid untuk melakukan berbagai macam hybrid model atau school learning management system itu potensinya sangat besar," tuturnya.


Menurut Nadiem, hal ini terbukti dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19. Ia menilai, para guru dan orangtua akhirnya mencoba beradaptasi dan bereksperimen memanfaatkan teknologi untuk kegiatan belajar.


Mendikbud menjelaskan bahwa dalam sejarah Indonesia, belum pernah kita melihat jumlah guru dan kepala sekolah yang bereksperimen dan orangtua juga bereksperimen beradaptasi dengan teknologi. "Jadi ini merupakan sebuah tantangan dan ke depan akan menjadi suatu kesempatan untuk kita," kata Nadiem.


***


            Saat acara Kuliah Perdana untuk Mahasiswa program S-3 UIKA Bogor (Jumat, 3/7/2020), seorang mahasiswa – yang juga seorang ustad cukup terkenal – bertanya, bagaimana cara menghindarkan ditutupnya sekolah-sekolah Islam di era Covid-19 dan sesudahnya? Menurutnya, pesantrennya sudah terimbas dampak Covid-19 ini. Bahkan, ada dua kampus Islam yang sudah ditawarkan kepadanya, sebab kesulitan finansial.


Mahasiswa lain, yang juga seorang Ustad, berkisah hal serupa. Seorang sahabatnya, yang baru saja mendirikan sekolah Islam, terpaksa menghentikikan operasi sekolahnya, karena masalah keuangan. Saya pun banyak mendengar cerita semacam ini. Belum lama, seorang Ustad dari satu kota juga menelepon saya. Ia mengabarkan, bahwa sebuah kampus ditawarkan untuk dialihkelola.


Itulah fakta yang sedang terjadi. Sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi Islam terimbas Covid-19, karena banyak pelajar atau santri yang kesulitan membayar biaya pendidikan. Mahasiswa S-3 tadi menyampaikan kekhawatiran, bahwa pasca Covid-19, akan banyak sekolah Islam dan pesantren yang ditutup. Benarkah? Dan bagaimana cara menyelamatkannya?


Itu pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Di Pesantren at-Taqwa Depok, kasus serupa juga terjadi. Kami terima itu sebagai ujian dari Allah SWT. Pesantren tetap menyarankan kepada para santri untuk tetap bisa melanjutkan pendidikannya. Pesantren berusaha membantu semampunya. Sebab, pesantren bukan lembaga bisnis, tetapi lembaga perjuangan di jalan Allah SWT.


Peran Guru


Pernyataan Mendikbud bahwa sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akan dipermanenkan pasca Covid-19, tentu saja memicu rasa khawatir pada banyak kalangan praktisi pendidikan Islam. Mendikbud sebenarnya berpikir realistis. Sistem PJJ sulit dihindarkan.


Sebab -- sebagaimana dalam berbagai bidang kehidupan lainnya – sistem online sudah berdampak luas. Dalam bidang perdagangan dan juga transportasi, misalnya, sistem online telah “membunuh” begitu banyak pelaku bisnis konvensional.


Bidang pendidikan pun sudah diprediksi akan mengalami hal serupa. Pandemi Covid-19 mempercepat dampak disrupsi terhadap pendidikan. Kampus-kampus dipaksa melakukan pembelajaran online, entah sampai kapan. Jumat (3/7/2020), saya memberikan kuliah untuk mahasiswa S-3 UIKA Bogor secara online, melalui aplikasi Zoom. Semula, kampus dan pihak mahasiswa berencana melakukan kuliah tatap muka lansung. Tapi, ada kebijakan pemerintah yang tidak mengizinkan hal itu dilakukan.


Jika PJJ akan dipermanenkan, bagaimana nasib gedung-gedung megah yang dimiliki kampus-kampus kita?  Beberapa kampus sudah menerapkan sistem PJJ sampai akhir tahun 2020 ini. Itu artinya, 10 bukan gedung-gedung kuliah itu “nganggur”.


Maka, logislah pertanyaan mahasiswa S-3 UIKA tadi: “Apakah pesantren juga akan mengalami hal serupa?” Apakah gedung-gedung pesantren juga akan mengalami hal yang sama?


Saya menjawab, “InsyaAllah, tidak!” Pesantren tidak akan mengalami hal seperti itu. Justru era PJJ memerlukan kehadiran sistem Pesantren. Jika tidak ingin “ngangggur” dan “sia-sia”, maka kampus-kampus harus mengubah dirinya menjadi “pesantren”.


Pesantren adalah bentuk lembaga pendidikan yang mengutamakan pendidikan (ta’dib), bukan sekedar “pembelajaran”. Dalam pendidikan, aspek terpenting adalah proses penanaman nilai-nilai kebaikan atau akhlak mulia. Proses ini memerlukan ketaladanan, pembiasaan, dan disiplin penegakan aturan.


Maka, yang mendesak untuk dilakukan saat ini adalah perubahan peran guru. Di era PJJ, guru harus berperan – utamanya – menjadi motivator, inspirator, dan teladan kehidupan. Guru bukan sekedar pengajar atau penyampai materi ajar.  Peran ini sudah bisa digantikan oleh teknologi informasi. 


Keunggulan lain, “pesantren” atau lembaga pendidikan Islam lainnya, mengharuskan para guru untuk terus mendoakan murid-muridnya agar mereka meraih ilmu bermanfaat dan menjadi orang baik, yang berguna bagi sesamanya. Karena itu,  era PJJ justru menjadi peluang besar bagi lembaga pendidikan Islam untuk semakin eksis dan berkembang. Sebab, peran pendidikan akhlak mulia, tidak bisa digantikan oleh mesin teknologi informasi.


Karena itulah, agenda penting saat ini adalah pembinaan para guru, agar mereka bisa menjalakan perannya sebaik mungkin: peran sebagai pendidik dan sebagai manajer proyek kelahiran generasi baru yang gemilang. Semoga Allah SWT menolong kita semua.  Aamiin.

Sebelumnya :
Selanjutnya :