• +62852-9938-0971

Puasa dan Belenggu Amarah

Puasa dan Belenggu Amarah

Oleh:

Fajar Ruddin*

 

RAMADHAN 1441 H menyisakan babak final. Al-asyru al-awakhir yang biasa kita songsong dengan i’tikaf di masjid tahun ini akan berbeda mengingat pandemi Covid-19 yang belum juga usai. Mau tidak mau, kita akan melepas bulan suci ini dari rumah sebagaimana kita menyambutnya dulu.

Satu hal yang patut kita refleksikan dari Ramadhan yang kita jalani #DiRumahAja adalah terkait outputnya. Allah mewanti-wanti kita dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan puasa adalah agar menjadi orang yang bertaqwa.

Taqwa memilikirincian indikator yang sangat beragam, salah satunya yang tersurat dalam Ali-Imran ayat 134. Allah berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan”

Ayat ini adalah penjelasan dari ayat sebelumnya tentang surga yang Allah janjikan bagi para muttaqin. Dalam ayat 134 di atas Allah menjelaskan bahwa salah satu indikator taqwa adalah “al-kadzimin al-ghaydzha” yang diterjemahkan sebagai “orang-orang yang menahan amarah”.

Dalam bahasa Arab, selain diartikan sebagai “orang yang menahan”, al-kadzim juga bisa bermakna “penutup” dari suatu bejana. Kalau bejana telah ditutup dengan kadzim-nya, maka tidak akan ada air yang keluar darinya. Bahkan meski hanya tanda-tanda berupa tetesan.

Ibarat bejana, al-kadzimina al-ghaydzha yang menjadi indikator taqwa juga adalah mereka yang mampu mengendalikan diri dengan paripurna. Sehingga tidak ada kemarahan yang nampak meski hanya berupa tanda-tanda. Tidak ada mata yang melotot, gigi yang gemeletuk, tangan yang mengepal, apalagi kata yang menyayat.

Ini bukan berarti kemarahan itu tidak ada sama sekali. Bukan itu. Sebagai manusia, Allah menganugerahkan kita seperangkat emosi berupa senang, sedih, takut, duka, termasuk juga marah. Tanpa adanya emosi hidup manusia akan hambar, hubungan interpersonal akan kaku, dan drama Korea tidak akan digandrungi.

Akan tetapi, dengan emosi itu juga manusia diuji. Bagaimana manusia mengekspresikan emosi bisa menjadi kebaikan atau keburukan untuk dirinya. Dalam hal ini, Allah menjadikan marah sebagai penguji ketaqwaan seorang hamba.

Ketika manusia marah, sejatinya ia bukan hanya berpotensi mendzhalimi orang lain, melainkan juga dirinya sendiri. Saat marah, otot tubuh manusia akan menegang, detak jantung meningkat, tekanan darah naik, dan napas memburu.

Di dalam otak orang yang marah, korteks sebagai pusat logika terpinggirkan perannya, diganti oleh amigdala sebagai pusat emosi. Masalahnya amigdala beraksi tanpa memperhatikan konsekuensinya karena bagian ini tidak terlibat dalam menilai, berpikir atau mengevaluasi.

Oleh karena itu, marah yang dituruti akan membuat manusia kehilangan kontrol atas dirinya sehingga kadang mereka tega melakukan kekejaman. Setelah marah itu reda, yang artinya korteks kembali mengambil alih, barulah mereka menyesali perbuatannya. Hal itu biasanya ditandai dengan kalimat pamungkas “Maaf, saya khilaf”.

Menahan amarah memang tidak mudah. Ketidakmudahan itu bahkan dijadikan acuan kekuatan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dalam haditsnya yang mulia beliau bersabda:

“Bukanlah orang yang kuat itu orang yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullaah shallallahu alaihi wa sallam memahami betul bahwa perang terberat bagi manusia adalah melawan hawa nafsu karena perang ini akan terus berkecamuk hingga ajal menjemput. Hal itu dipersulit dengan sikap kita yang cenderung sayang kepada diri sendiri sehingga apa-apa yang bersumber dari hawa nafsu seringkali dituruti.

Padahal jika mau bersabar, hanya butuh 20 menit bagi amarah itu untuk reda (Fennely, Benau, Atchley, 2016). Dua puluh menit yang akan sangat membedakan, apakah kita hidup dengan penyesalan karena menuruti kemarahan atau bahagia karena mendahulukan kesabaran.

Covid-19 dan Potensi Ibadah Ramadhan Kita

Secara teori, Ramadhan di rumah semestinya bisa dilalui dengan lebih mudah karena akses terhadap godaan yang berseliweran di luar rumah menjadi terbatas. Lebih dari itu, rupa-rupa stressor yang berpotensi membuat kita naik darah juga seharusnya semakin terminimalisir. Entah itu stressor di sekolah, kampus, kantor atau jalan.

Artinya kita telah terkondisikan sedemikian rupa agar berhasil menjalani ibadah di bulan suci ini. Setan terbelenggu, lingkungan terkondisikan. Sempurna sudah.

Akan tetapi teori tinggallah teori. Kadang ia hanya berkelebat di alam pikiran, menggumpal dalam bentuk niat, tanpa mewujud dalam laku keseharian. Marah yang das sollen-nya tak akan mudah terpantik sewaktu Ramadhan #DiRumahAja, toh akhirnya menggejala juga.

Ragam stressor harian yang hilang selama #DiRumahAja tersubstitusi dengan stressor lain. Entah mengapa ada saja hal-hal yang memantik tensi, entah itu tugas sekolah anak yang butuh pendampingan, perilaku pasangan yang kadang bikin pening, atau tetek bengek lainnya.

Saya ingat dulu di awal-awal seruan work from home ada banyak meme yang beredar, salah satunya meme transformasi wujud ibu. Hari pertama work from home ibu dianalogikan sebagai boneka yang begitu ramah membersamai anak.

Akan tetapi suka cita itu hanya bertahan di hari pertama saja, karena di hari kedua dan ketiga ibu berubah menjadi macan dan T-Rex. Puncaknya setelah seminggu lebih ibu diibaratkan sebagai naga yang menyemburkan api.

Ya, tentu itu hanya metafora belaka. Tetapi saya rasa ada realitas yang terkandung juga dalam meme tersebut. Bahwa mempertahankan emosi yang socially desirable bukanlah pekerjaan mudah. Oleh karena itu, menahan amarah digolongkan sebagai ciri ketaqwaan yang beroleh surga. Karena memang susah mempraktekannya. Kalau mudah, mungkin cuma payung cantik hadiahnya.

Di Ramadhan yang telah memasuki sepertiga akhir ini, mari bersama kita tafakuri, adakah cerminan al-kadzimina al-ghaydzha dalam diri kita?

*Pegiat Psikologi Islam, mahasiswa pascasarjana psikologi King Saud University, Riyadh

Sebelumnya :
Selanjutnya :