Al-Qur’an memberikan pelajaran berharga melalui doa Nabi Musa AS bersama orang-orang beriman ketika menghadapi tekanan dan ancaman dari kaum yang zalim.
Oleh: KH Bachtiar Nasir
DI TENGAH hamparan bebatuan Wadi Rum, Yordania Selatan, keheningan gurun seolah mengajak manusia merenungi hakikat kehidupan. Jejak peradaban masa lalu yang masih tersisa di kawasan itu menjadi pengingat bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta yang begitu luas. Di balik segala keterbatasannya, ada Allah SWT, Sang Pencipta yang kehendak-Nya meliputi segala sesuatu.
Namun, dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita kerap lupa akan kebesaran rahmat-Nya. Pikiran dipenuhi kecemasan tentang masa depan, hati gelisah memikirkan kebutuhan hidup, dan langkah terasa berat ketika persoalan datang bertubi-tubi. Kita sibuk mencari jalan keluar, seolah-olah seluruh beban kehidupan harus ditanggung dengan kekuatan diri sendiri.
Padahal, Allah Subhanahunwa ta'ala memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih, dan Ar-Rahim, Yang Maha Penyayang. Rahmat-Nya jauh lebih luas daripada persoalan yang sedang kita hadapi. Bahkan, sebelum kita mampu meminta, begitu banyak karunia-Nya telah lebih dahulu kita terima.
Bayangkan seorang bayi dalam kandungan. Ia tumbuh tanpa harus memikirkan dari mana makanan akan datang atau bagaimana esok hari akan dijalani. Allah telah menyiapkan segala kebutuhan pertumbuhannya melalui jalan yang tidak pernah dipahaminya.
Gambaran ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak semata-mata berjalan karena kemampuan manusia mengendalikan segala sesuatu, tetapi juga karena kasih sayang Allah yang terus menyertai. Lantas, mengapa kita masih begitu mudah dikuasai ketakutan?
Salah satu sebabnya, kita sering kali lebih sibuk memikirkan hasil daripada memperbaiki hubungan dengan Allah. Kita berdoa agar masalah segera selesai, tetapi hati masih dipenuhi kecemasan.
Kita memohon pertolongan, tetapi tetap merasa seolah-olah seluruh nasib berada di tangan sendiri.
Doa akhirnya hanya menjadi rangkaian permintaan, bukan jalan untuk meneguhkan keyakinan dan ketundukan kepada-Nya.
Al-Qur’an memberikan pelajaran berharga melalui doa Nabi Musa AS bersama orang-orang beriman ketika menghadapi tekanan dan ancaman dari kaum yang zalim. Dalam Surah Yunus ayat 85–86, Allah mengabadikan doa mereka: عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ “Kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari kaum yang kafir.”
Ada pelajaran penting dari urutan doa tersebut. Sebelum memohon keselamatan, mereka terlebih dahulu menyatakan tawakal kepada Allah. Mereka menegaskan tempat bersandar sebelum menyampaikan apa yang mereka harapkan.
Baca Beritanya : https://ummattv.com/post/bprs-amanah-ummah-dan-ummat-tv-peduli-sapa-pesantren-di-bogor-bagikan-300-butir-telur
Tawakal bukan berarti berhenti berusaha atau menyerah pada keadaan. Tawakal adalah kesediaan untuk melakukan ikhtiar sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Kita mengakui bahwa akal memiliki keterbatasan, tenaga tidak selalu mencukupi, dan rencana manusia tidak selamanya berjalan sesuai harapan.
Di sinilah tawakal menemukan maknanya. Kita tetap bekerja, mencari nafkah, menyelesaikan persoalan, dan memperbaiki keadaan. Namun, kita tidak menggantungkan seluruh ketenangan hati pada hasil usaha tersebut. Ada Allah yang menjadi tempat bersandar ketika jalan terasa buntu dan kekuatan mulai melemah
Doa Nabi Musa AS juga mengajarkan bahwa keselamatan sejati bukan semata-mata hasil kecerdikan atau kekuatan fisik manusia. Ada rahmat Allah yang menjadi tempat memohon pertolongan. Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, kita tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Kita juga perlu bertanya, “Sudahkah saya mendekat kepada Allah dan memperbaiki sikap hati?”
Sering kali, kita mengukur rahmat Allah hanya dari banyaknya harta, kelancaran pekerjaan, kesehatan, atau kemudahan urusan. Ketika semua berjalan baik, kita merasa hidup sedang diberkahi.
Sebaliknya, ketika ujian datang, kita mudah mengira bahwa rahmat Allah sedang menjauh. Padahal, rahmat-Nya tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita inginkan. Ada kesulitan yang mengajarkan kesabaran, kegagalan yang mengingatkan kita untuk memperbaiki langkah, dan kehilangan yang menyadarkan bahwa tidak semua hal di dunia dapat kita miliki selamanya.
Karena itu, jangan biarkan ketakutan menguasai seluruh ruang di dalam hati. Kita boleh khawatir, tetapi jangan sampai kehilangan harapan. Kita boleh bersedih, tetapi jangan sampai berhenti berdoa. Kita boleh menghadapi jalan yang sulit, tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa pertolongan Allah tidak akan datang.
Mulailah hari dengan bersyukur atas nikmat yang sering luput dari perhatian. Perbanyak istigfar, perbaiki ikhtiar, dan jaga hubungan dengan sesama. Jangan hanya berharap menerima rahmat Allah, tetapi berusahalah menjadi jalan hadirnya rahmat bagi orang lain melalui perkataan yang baik, pertolongan yang tulus, dan sikap yang menenteramkan.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang bagaimana kita mengendalikan semua keadaan, melainkan bagaimana kita menjaga iman ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan. Ada hal-hal yang dapat kita usahakan, ada yang harus kita sabarkan, dan ada yang perlu kita serahkan kepada Allah.
Rahmat-Nya begitu luas, sedangkan pengetahuan kita tentang masa depan begitu terbatas. Maka, ketika kecemasan datang mengetuk pintu hati, jangan biarkan ia menjadi penguasa. Bukalah ruang bagi doa, kuatkan tawakal, dan teruslah melangkah dengan ikhtiar. Sebab, bersama kesulitan ada kemudahan.
Allah tidak meminta kita mengetahui seluruh rahasia masa depan. Kita hanya diminta berusaha, bersabar, dan tetap percaya kepada-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber : bahtiarnasir.com