Hadirnya anak-anak di masjid adalah investasi jangka panjang. Dari sinilah lahir generasi yang mencintai masjid, menjaga salat,
Oleh Ust. Muhammad Zaitun Rasmin (Pemerhati Keluarga Muslim)
Ramadan selalu menghadirkan suasana yang istimewa. Masjid-masjid dipenuhi jamaah, lantunan ayat suci menggema, dan yang tak kalah menggembirakan adalah hadirnya anak-anak di saf-saf salat. Pemandangan ini sejatinya adalah kabar baik bagi masa depan umat.
Membawa anak ke masjid merupakan bagian penting dari pendidikan dan pembiasaan iman. Anak-anak tidak akan mencintai masjid jika mereka tidak pernah diperkenalkan sejak dini. Ramadan adalah momentum terbaik untuk menanamkan rasa cinta itu.
Namun, pendidikan tidak cukup hanya dengan menghadirkan anak ke masjid. Ada adab yang harus dijaga. Masjid adalah rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tempat ibadah yang menuntut ketenangan dan penghormatan.
Tiga Prinsip Penting
Pertama, edukasi dimulai dari rumah. Orang tua perlu menjelaskan bahwa masjid adalah tempat ibadah, bukan tempat bermain. Tanamkan rasa hormat sebelum mereka melangkahkan kaki ke dalamnya.
Kedua, anak tidak boleh dilepas tanpa pengawasan. Tanggung jawab tetap berada pada orang tua. Jika sebelum salat anak berinteraksi dengan temannya, itu masih bisa ditoleransi. Namun saat salat dimulai, anak harus berada di dekat orang tuanya.
Ketiga, tidak perlu mengumpulkan anak-anak dalam satu saf khusus di bagian belakang. Mengumpulkan mereka justru berpotensi menimbulkan keributan. Lebih baik anak berada di samping orang tuanya. Di masa Rasulullah ﷺ, anak-anak juga hadir di masjid tanpa dipisahkan dalam kelompok khusus.
Bijak Menyikapi Suara Anak Orang dewasa juga perlu melatih kesabaran. Anak-anak memiliki tabiat alami: terkadang bersuara atau bergerak. Kita tidak perlu terlalu sensitif. Jika hati sudah khusyuk, gangguan kecil tidak akan merusak ibadah.
Hadirnya anak-anak di masjid adalah investasi jangka panjang. Dari sinilah lahir generasi yang mencintai masjid, menjaga salat, dan memakmurkan rumah Allah di masa depan.