Pesantren Lansia Al I’tisham pun perlahan menjadi model pendidikan yang mulai dilirik dan dicontoh oleh sejumlah masjid maupun komunitas di daerah lain.
BOGOR UMMATTV.COM — Pada 1 Muharram 1446, dua tahun lalu, Pesantren Lansia Al I’tisham resmi diluncurkan sebagai salah satu program di bawah naungan Yayasan Masjid Al I’tisham.
Kini, memasuki Muharram 1448, program tersebut telah berjalan selama dua tahun dan terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Berikut wawancara khusus bersama Ust. Hendri Tanjung, selaku Ketua Yayasan Al I’tisham sekaligus Founder Pesantren Lansia Al I’tisham di Perumahan Budi Agung, Bogor.
Menurut Ust. Hendri Tanjung, evaluasi selama dua tahun terakhir menunjukkan bahwa keberhasilan pesantren tidak hanya diukur dari jumlah santri yang terdaftar, tetapi juga dari lahirnya kelompok santri yang istiqamah dalam mengikuti proses pembelajaran.
“Memang ada santri yang aktif dan ada yang tidak aktif. Namun yang tetap bertahan hingga hari ini adalah mereka yang sejak awal memiliki niat yang kuat untuk belajar agama. Mereka benar-benar ingin menuntut ilmu, dan itulah yang membuat mereka terus istiqamah,” Direktur Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor ini.
Semangat para santri yang aktif ternyata memberikan pengaruh positif bagi peserta lainnya. Mereka tidak hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi juga menjadi duta dakwah yang mengajak teman-teman dan kerabatnya untuk ikut bergabung.
Dari awal berdiri dengan sekitar 40 santri, kini jumlah peserta yang pernah terdaftar mencapai 167 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 127 santri masih aktif mengikuti kegiatan pembelajaran, baik secara langsung maupun daring.
Bagi pengelola pesantren, angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan agama bagi kalangan lansia sangat besar. Terlebih, para peserta yang merasakan manfaat pembelajaran sering kali menjadi media promosi yang paling efektif.
“Bukan hanya kami yang mengajak orang lain untuk bergabung. Para santri sendiri yang sudah merasakan manfaatnya ikut menyampaikan pengalaman mereka kepada teman-temannya. Itu yang membuat jumlah peserta terus bertambah,” jelas Ust. Hendri.
Keistimewaan lain dari Pesantren Lansia Al I’tisham adalah jangkauan pesertanya yang semakin luas. Jika pada awalnya didominasi warga sekitar Budi Agung dan Bogor, kini santri berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Kehadiran kelas daring memungkinkan masyarakat dari luar kota bahkan luar pulau untuk mengikuti pembelajaran tanpa harus datang langsung ke lokasi pesantren.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa semangat belajar agama di usia lanjut tumbuh di berbagai daerah. Pesantren Lansia Al I’tisham pun perlahan menjadi model pendidikan yang mulai dilirik dan dicontoh oleh sejumlah masjid maupun komunitas di daerah lain.
Meski demikian, Ust. Hendri menegaskan bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi. Salah satu fokus utama ke depan adalah penataan administrasi dan pendataan santri agar lebih akurat. Pengelola ingin memastikan bahwa data yang tercatat benar-benar mencerminkan kondisi keaktifan para peserta.
“Kami ingin mengetahui dengan jelas siapa saja yang masih aktif dan siapa yang sudah tidak melanjutkan. Dengan begitu, pembinaan bisa dilakukan lebih maksimal,” ungkapnya.
Selain itu, pihak pesantren juga berencana memperkuat komitmen peserta sejak awal pendaftaran. Salah satu langkah yang sedang dipersiapkan adalah proses registrasi ulang dan penyusunan pernyataan kesungguhan mengikuti program pembelajaran.
Perhatian khusus juga akan diberikan kepada santri yang mengikuti kelas daring. Selama ini, sebagian besar peserta yang kurang aktif berasal dari kelompok online. Karena itu, pengelola berencana meningkatkan komunikasi dan pendampingan agar hubungan antara pesantren dan para santri tetap terjaga dengan baik.
Bagi Ust. Hendri Tanjung, perjalanan dua tahun ini memberikan pelajaran penting bahwa pendidikan agama untuk lansia membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan kurikulum yang mampu menjaga semangat belajar para peserta.
Sebab tujuan utama pesantren bukan sekadar menambah jumlah santri, melainkan menumbuhkan keistiqamahan dalam menuntut ilmu hingga akhir hayat.
Pesantren Lansia Al I’tisham hadir membawa pesan bahwa usia senja bukanlah akhir dari proses belajar. Justru pada fase inilah banyak orang menemukan kembali semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki ibadah, dan mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan yang abadi.
Dua tahun perjalanan ini menjadi bukti bahwa ketika niat belajar tumbuh dengan ikhlas, usia bukanlah penghalang untuk terus menuntut ilmu. Sebaliknya, ia menjadi jalan menuju keberkahan dan husnul khatimah yang diharapkan setiap Muslim.