• +62852-9938-0971

Empat Kekuatan Menghadapi Masalah (Bagian Tiga)

Empat Kekuatan Menghadapi Masalah (Bagian Tiga)

Jika Anda sakit, kuatkan keyakinan kepada-Nya bahwa tidak ada yang sanggup menyembuhkan Anda dari sakit selain Allah.

(Tadabbur Surat Al- Baqarah Ayat 186)

Bag.3


Oleh : 

Dr. Samsul Basri, S.Si, M.E.I


Judul di atas sengaja penulis pilih sebagai hasil dari tadabbur surat Al baqarah ayat 186. Dengan harapan, agar "Kita" tetap tegar dan optimis menghadapi sejumlah masalah yang seakan silih berganti datang menghantui sebagai dampak pandemi covid-19. 

Pada bag.1 dan 2 tulisan ini telah disampaikan dua pelajaran berharga dari 6 pelajaran yang dijanjikan penulis untuk dishare kepada para pembaca. Semoga Allah memudahkan penulis dan juga pembaca dalam melakukan kebaikan dan menebar manfaat di tengah tengah umat Islam. 

Pada bag.3 tulisan ini akan disampaikan pelajaran ke-3 dan ke-4. Karena pada pelajaran yang akan diungkap ini berkenaan dengan kisah Abu Umamah Al Anshari yang mendapatkan ajaran doa dari Nabi Saw , maka kisah tersebut diangkat kembali pada tulisan ini. Adapun kisahnya sebagai berikut,

Suatu ketika Rasulullah Saw mendapati seorang sahabat dari kalangan Anshar yang dipanggil Abu Umamah mengurung diri di masjid dengan ekspresi wajah mengalamatkan kesedihan. Beliau Saw bertanya: “Ada apakah gerangan aku lihat engkau hanya duduk di masjid di selain waktu shalat?”._ Menanggapi pertanyaan manusia yang sangat dihormatinya itu, dia menjawab; “Kegundahan dan hutang yang besar mencekik leherku, wahai Rasulullah!. Mendengar hal itu, beliau _Saw berkata: "Maukah aku ajarkan doa yang apabila kamu ucapkan maka Allah Azza Wa Jalla akan menghilangkan kegundahanmu dan melunaskan hutang-hutangmu?". Dengan penuh suka cita dan antusias, Abu Umamah menjawab : “Mau, ya Rasulullah.” Beliau pun bersabda: "Apabila kamu berada dipagi dan di sore hari ucapkanlah: 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ


ALLAAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MINAL HAMMI WAL HAZANI WA A'UUDZU BIKA MINAL 'AJZI WAL KASALI, WA A'UUDZU BIKA MINAL JUBNI WAL BUKHLI WA A'UUDZU BIKA MIN GHALABATID DAINI WA QAHRIR RIJAAL.

Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut dan bakhil dan aku berlindung kepadaMu dari terlilit hutang dan pemaksaan dari orang lain). 

Setelah mengamalkan doa di atas, di setiap pagi dan petang, Abu Umamah berkata: “Alhamdulillah Allah 'azza wajalla menghilangkan kegundahanku dan melunasi hutang-hutangku.”

Pelajaran Ketiga, pada kisah Abu Umamah yang gundah karena dililit hutang, Nabi menanamkan harapan disertai keyakinan dan sangka baik kepada Allah seraya bersabda, "Maukah aku ajarkan doa yang apabila kamu ucapkan maka Allah Azza Wa Jalla akan menghilangkan kegundahanmu dan melunaskan hutang-hutangmu?". Perhatikan sabda beliau, “Allah Azza Wa Jalla akan menghilangkan kegundahanmu dan melunaskan hutang-hutangmu?” Pernyataan ini merupakan perluasan makna لا إله إلا الله   (Tiada Tuhan yang berhak diibadahi melainkan Allah) yang diajarkan oleh beliau Saw kepada Abu Umamah bahwa tidak ada yang mampu menghilangkan kegundahannya dan melunaskan hutang-hutangnya melainkan Allah. 

Jika anda sakit, kuatkan keyakinan kepada-Nya bahwa tidak ada yang sanggup menyembuhkan anda dari sakit selain Allah. Jika ditimpa dengan masalah, kesedihan, kegalauan, dan rasa takut, sebesar apa pun yang menimpa anda itu, katakanlah dengan penuh keyakinan, “Tidak ada yang mampu menolong saya dari masalah ini, selain Allah. Tidak ada yang mampu menghapus kesedihan, kegalauan dan rasa takut ini, selain Allah”.

Demikian pula mimpi, harapan, dan cita-cita yang ingin digapai, tidak ada yang mampu mewujudkannya melainkan Allah. Anda ingin berhaji atau berumrah tahun ini atau tahun depan, katakanlah penuh keyakinan, “Tidak ada yang mampu menghaji dan mengumrahkan saya selain Allah." 

Selanjutnya bermohon dan berdoalah kepada Allah penuh ketulusan agar Allah mengabulkan apa yang dipersangkakan kepada-Nya, sebab Nabi Saw bersabda dalam hadits Qudsi,

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي

Allah Ta’aala berfirman : Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. (HR. Bukhari).

Pelajaran Keempat, berdasarkan hadits mengenai kisah Abu Umamah r.a secara tidak langsung Nabi Saw mengajarkan kepada umatnya bahwa masalah tidak akan terselesaikan selagi empat penyakit yang disebutkan dalam hadits tersebut menjangkiti seseorang. Empat penyakit itu :

1. Al-Hammu wa Al-Haznu (penyakit gundah dan sedih). Pada umumnya manusia, tabiatnya jika menghadapi masalah, pembawaannya selalu gundah dan sedih. Hanya saja larut dengan kegundahan dan kesedihan akan meningkatkan hormon stress, sedangkan hormon endorphin (kebahagiaan) dalam tubuhnya akan menurun, akibatnya kekuatan tubuh melemah, energi terkuras, dan jadilah dia pribadi dengan sifat yang suka berkeluh kesah.  Allah berfirman, "Innal insaana khuliqa haluu’an* (Sungguh manusia diciptakan dengan tabiat yang suka berkeluh kesah).

2. Al-‘Ajzu wa Al-Kasalu (Penyakit lemah dan malas). Sifat keluh kesah muncul karena kondisi jiwa tidak stabil, dirundung kegelisahan dan kesedihan, kehilangan mood postif, sehingga seseorang dengan perasaan ini akan menjadi lemah dan malas. Parahnya seseorang dengan penyakit lemah dan malas cenderung menyalahkan orang lain atas keburukan yang menimpanya. Keadaan pun semakin terpuruk.

3. Al-Jubnu wa Al-Bukhlu (Penyakit pengecut dan bakhil). Seseorang dengan penyakit ini menjadi sempit cara pandangnya, menjadi pengecut sikapnya, karena mensugesti diri bahwa dia tidak bisa menolong orang lain karena dia sendiri sedang menghadapi masalah dan sedang butuh pertolongan. Ketika dia tidak bersedia membantu orang lain padahal dia mampu melakukannya, saat itulah dia menjadi bakhil. Mempertahankan penyakit ini bukanlah solusi untuk keluar dari masalah, justru menambah masalah yang baru, yaitu buruknya hubungan dengan orang lain.

4. Ghalabatu al-Dain wa Kahru al-Rijal (Hutang semakin bertambah dan sikap merendahkan orang lain terhadap dirinya semakin jelas). Masalah jika tidak segera diselesaikan akan semakin meburukkan keadaan seseorang yang larut dalam gundah dan sedih, akan semakin sempit jalan keluar bagi yang bersikap lemah dan menuruti kemalasan, dan semakin menggelapkan ruang hidup seseorang yang pengecut dan bakhil terhadap orang lain. Masalah pun semakin besar dan bertambah, jadilah seseorang itu tersisihkan, terpojokkan dan direndahkan. 

~°°~ Bersambung ~°°~

Sebelumnya :
Selanjutnya :