Bahkan kekuatan ekonomi negara-negara Teluk yang melimpah tidak menghantarkan pada kekuatan harga diri
Oleh: Salas Aly Temur
1 Muharram 1448 H
Roda Waktu dan Sunatullah Pergantian Kekuasaan
Waktu terus bergulir. Peradaban manusia tak pernah diam. Satu peradaban lahir, jaya, lalu surut digantikan oleh yang lain. Ini adalah sunnatullah yang tegas difirmankan Allah:
_"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia_" (QS Ali Imran: 140)
Rasulullah SAW sendiri telah menggambarkan sirkulasi kepemimpinan umat ini dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Bukhari. Beliau bersabda:
"_Kenabian akan berada di antara kalian selama apa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendaki. Lalu akan ada khilafah di atas metode kenabian, maka berlangsunglah sesuai yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendaki. Lalu akan ada kerajaan yang menggigit (mulkan 'adzam), maka berlangsunglah sesuai yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendaki. Lalu akan ada kerajaan yang sewenang-wenang/tambal sulam (mulkan jabriyyan), maka berlangsunglah sesuai yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendaki. Kemudian akan muncul lagi khilafah di atas metode kenabian_." (HR Bukhari)
Hadits ini bukan sekadar ramalan, melainkan peta jalan sejarah. Hari ini, setelah 14,5 abad Islam hadir di muka bumi, kita sedang berada di fase mana? Rasanya kita sedang berada di fase mulkan jabriyyan, yang mengantarkan Umat Rasulullah SAW terseok-seok ditempa tekanan umst lain.
*1447 H: Bukan Waktu Singkat, Tapi Benang Merah yang Terlihat*
Telah 1447 tahun sejak hijrah, atau 1460 tahun sejak risalah Muhammad SAW disebarkan. Ini bukan waktu yang singkat. Cukup panjang untuk dianalisis dengan jernih. Benang merah makronya terlihat jelas: dari kejayaan Islam di Jazirah Arab, meluas ke berbagai benua benua, mengantarkan era keemasan peradaban, hingga mencapai puncak menaklukan Romawi Timur oleh kekuasaan politik Kesultanan Utsmaniyah pada pertengahan abad ke-15 Masehi.
Hari ini, umat Islam hadir dalam jumlah yang sangat besar—mewarnai semua benua sebagaimana pernah dinubuwahkan Rasulullah—namun keberadaan kita tidak solid, tidak tangguh. Kuantitas membanggakan, kualitas dan soliditas memprihatinkan. Nasibnya diombang-ambing oleh peradaban umat lain.
*Kebangkitan Peradaban Barat dan Kejatuhan Umat Islam*
Di saat dunia Barat bangkit melalui sentuhan Renaissance yang dipelopori para saudagar Yahudi Azhkenazi yang bermetamorfosis memengaruhi dunia Kristiani Eropa Barat di akhir abad pertengahan, umat Islam justru mulai tertinggal. Kebangkitan Barat dengan pola fikir Yunani Kuno dan Romawi Kuno yang rasionalistik dan sekuler telah merubah dunia secara perlahan namun pasti. Eropa menjadi agnostik dan atheis karena sekularisasi serta dunia dijajah dengan kombinasi sains, militer, perdagangan dan politik. Penjajahan yang berkepanjangan menjadi faktor utama, bukan hanya merampas tanah, tetapi menjarah sumber daya alam dan mematikan nalar kritis. Akibatnya, umat Islam terkooptasi, kehilangan arah, dan hanya menjadi penonton di panggung peradabannya sendiri.
*Hari Ini: Kepemimpinan Dunia di Tangan Barat Mulai Meredup dan Tantangan Umat Islam*
Kepemimpinan dunia saat ini dikendalikan oleh dunia Barat, dan secara perlahan mulai goyah karena hancurnya moralitas akibat sekularistik yang arogan. Telah nampak pergeseran akibat munculnya kekuatan baru yang bangkit meninggalkan sekularisme menuju Multipolarisme yang digagas oleh Rusia dan China. Munculnya Aliansi BRICS di sektor ekonomi dan aliansi pendukung kemerdekaan Palestina serta solidaritas terhadap Gaza serta Iran oleh Rusia dan China membuat celah harapan bagi bangkitnya Umat Islam. Kendati umat Islam masih terpincang-pincang, Belum ada negari Islam yang memiliki posisi kuat secara politik global yang sebanding, yang ditunkukkan dengan tidak satu pun negeri Islam yang duduk sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Pertahanan negara-negara Islam selalu dikontrol oleh para pemilik hak veto.
Kasus Iran memperlihatkan betapa sulitnya sebuah negeri Islam mengakses kemampuan senjata nuklir—kecuali Pakistan yang berhasil mencuri teknologi dengan cerdik.
Bahkan kekuatan ekonomi negara-negara Teluk yang melimpah tidak menghantarkan pada kekuatan harga diri. Uang mereka umumnya dikelola oleh pelaku bisnis dunia Barat, sementara para penguasa Arab yang kaya raya justru tampak menjadi budak zionisme. Konflik terbaru antara Zionis (plus AS) dengan Iran memperlihatkan dengan telanjang: para pemimpin negara Teluk lebih takut kehilangan kekuasaan daripada membela harga diri Islam. Hal yang paling vulgar diperlihatkan oleh elit di Uni Emirate Arab.
*Akar Segalanya: Penyakit Wahn dan Serangan Yakjuj Wa Makjuj*
Nabi SAW telah menggambarkan akar dari semua kelemahan ini. Suatu hari beliau bersabda:
_"Akan datang suatu masa di mana bangsa-bangsa lain akan berhamburan menyerang kalian, seperti orang yang lapar menghambur ke arah makanan." Para sahabat bertanya, "Apakah karena jumlah kami sedikit saat itu?" Beliau menjawab, "Bahkan jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di air bah. Dan Allah akan mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian, serta menanamkan penyakit wahn di hati kalian." Mereka bertanya, "Apa itu wahn, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Cinta dunia dan takut mati_." (HR Abu Dawud, Ahmad, dan dishahihkan Al-Albani)
Penyakit wahn itulah yang menggerogoti umat Islam hingga tidak berdaya di hadapan musuh ideologi yang membawa sistem Dajjal—sistem yang menipu umat manusia dengan gemerlap dunia.
Serangan sadis kaum perusak akhir zaman (Yakjuj Wa Makjuj) juga tidak lepas dari ramalan Nabi dalam HR Bukhari, saat beliau terbangun dari tidur di rumah istrinya Zainab binti Jahsy. Beliau bersabda, _"Celaka bangsa Arab dari kejahatan yang sudah dekat. Hari ini telah terbuka tembok Ya'juj dan Ma'juj._" Rasulullah SAW menunjuk Ya'juj dan Ma'juj sebagai biang kerok yang akan merusak dan menyerang umat Islam sehingga menjadi kurang berdaya. Di era modern, Ya'juj dan Ma'juj itu bisa dimaknai sebagai kekuatan-kekuatan pengendali sistem keuangan dan militer yang merusak peradaban dunia dengan berkedok kemajuan dan kebebasan, sebagaimana yang diungkap dalam HR Ibn Majah (4066).
*Secercah Harapan di Tengah Kelabu*
Namun, di tengah kelesuan kekuatan umat Islam untuk kembali memimpin peradaban dunia, secercah harapan masih ada dan berpotensi membesar. Rakyat di negeri-negeri Islam umumnya mulai memiliki kesadaran untuk bangkit melawan hegemoni dan penindasan model modern Ya'juj dan Ma'juj.
Beberapa negara seperti Iran, Afghanistan, dan Yaman selangkah lebih maju dalam konteks perlawanan kenegaraan. Dalam konteks grassroot, perlawanan Hamas, Houthi, Hizbullah, serta kebangkitan kesadaran umat di Indonesia, Turki, Malaysia, Pakistan, dan berbagai sudut dunia lainnya mulai tumbuh. Aliansi-aliansi alternatif mulai dijajaki, khususnya dengan Rusia dan China—dua kekuatan yang memiliki sisi pandang berbeda dengan peradaban Barat yang diternak oleh para perusak akhir zaman.
*1448 H: Kelabu, Bukan Berarti Padam*
Tahun 1448 H ini belum memperlihatkan cahaya terang. Kecenderungan masih kelabu karena arogansi Zionis dan para penyokongnya yang menguasai sistem ekonomi dunia. Namun harapan untuk kebangkitan tidak boleh padam. Sebab janji Allah dalam Surah An-Nuur ayat 55 jelas:
_"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan mengukuhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.."_ (QS An-Nuur: 55)
Dan Rasulullah SAW pun telah menegaskan bahwa sebelum dunia berakhir, umatnya akan kembali memimpin dunia. Itu adalah janji, meski jalan menuju ke sana terjal dan berlumuran darah kesabaran.
*Penutup*
Maka, di awal Muharram 1448 H ini, mari kita tidak larut dalam pesimisme. Mari kita baca sejarah, pahami sunnatullah, diagnosis penyakit wahn dalam diri kita sendiri dan waspada terhadap perusak akhir zaman, lalu bangkit. Kebangkitan tidak akan datang dari langit tanpa gerakan di bumi. Dibutuhkan kesadaran kolektif, persatuan di atas kalimat yang sama, dan keberanian untuk melepaskan ketergantungan pada sistem yang menindas.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1448 H.