Pelajaran dari Melempar Jumroh di Era Modern*

Pelajaran dari Melempar Jumroh di Era Modern*

(Memperingati Hari-Hari Tasyriq) 


Oleh : Salas Aly Temur


Setiap tahun, pada hari-hari tasyriq di bulan Dzulhijjah, jutaan umat Islam yang sedang menunaikan ibadah haji melaksanakan dua kewajiban penting: mabit (bermalam) di Mina dan melempar jumroh—baik jumroh Aqobah, Ula, maupun Wustha. Ritual yang tampak sederhana ini menyimpan pelajaran mendalam, terutama ketika kita membaca kembali sejarah panjang lembah Mina serta menghubungkannya dengan realitas kehidupan modern yang sarat dengan godaan dan tantangan.


Mina: Lembah Peperangan Melawan Syetan

Mina bukan sekadar lembah biasa. Terletak di pinggiran kota suci Makkah, tempat ini menyimpan kenangan akan pergulatan spiritual para nabi. Di sinilah Nabi Ibrahim, bersama istrinya Siti Hajar dan putranya Ismail, diganggu oleh syetan saat turun perintah untuk menyembelih putra tercinta. Syetan muncul dan berusaha membujuk, menggoda, serta menanamkan keraguan di hati mereka. Namun, Ibrahim dan keluarganya tidak gentar. Mereka melempar syetan dengan batu—tindakan simbolis yang mengajarkan bahwa syetan harus diperangi, bukan dirangkul apalagi diikuti langkahnya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

"Dan jika kamu digoda oleh setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka disentuh oleh bayangan setan, mereka segera mengingat Allah, maka seketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya)." (QS. Al-A'raf: 200-201)

Ayat ini menegaskan bahwa melawan syetan tidak cukup dengan niat, tetapi dengan tindakan nyata—sebagaimana lemparan jumroh adalah tindakan fisik yang melambangkan penolakan total terhadap kejahatan.

Mina: Tempat Lahirnya Solusi Dakwah

Tidak hanya di era Ibrahim As, Mina juga menjadi saksi peristiwa penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Di lembah inilah, saat beliau dimusuhi kaumnya di mekkah, dipersona non grata oleh kaumnya sendiri dan pulang dari Thaif statusnya tinggal di Mekkah di bawah perlindungan seorang kafir, Allah membukakan pintu pertolongan. Penduduk Yatsrib (Madinah) yang datang berhaji memberikan baiat setia kepada Rasulullah. Mereka siap menerima Islam dan membela beliau dengan segenap jiwa dan raga. Gagasan hijrah ke Madinah pun lahir dari momentum bersejarah ini—sebuah solusi cemerlang di tengah kebuntuan dakwah.


Dari sini kita belajar bahwa ketika satu pintu tertutup, pintu lain bisa terbuka. Yang diperlukan adalah kesabaran, keyakinan, dan keberanian untuk mengambil langkah strategis.


Syetan Berwajah Modern: Tantangan Zaman

Pelajaran dari melempar jumroh tidak berhenti pada ritual fisik semata. Saat ini, syetan telah menjelma menjadi tatanan yang semakin canggih—baik dalam bentuk manusia maupun jin. Godaan tidak lagi datang sebagai bisikan sederhana, melainkan dapat masuk dalam balutan sistem, teknologi, dan budaya yang seolah-olah modern dan wajar. Berbagai ritual duniawi (musik, olah raga, dll) begitu masif menyaingi ritual agama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Konsumsi berlebih, hedonisme, individualisme, dan kecanduan digital hanyalah segelintir contoh bagaimana syetan bisa beroperasi dengan topeng kemajuan.

Kemampuan kita dalam menjauhi dan memerangi syetan harus terus di-"upgrade". Jangan puas dengan kapasitas yang ada. Jika dulu lemparan batu cukup menjadi simbol perlawanan, hari ini kita membutuhkan "lemparan" berupa kesadaran kritis, penguatan literasi agama dan digital, serta komitmen kolektif untuk melawan arus kerusakan.

Memberi Solusi di Tengah Gelombang Kerusakan Global*

Pertanyaan selanjutnya adalah: sudah sejauh mana kita memberikan solusi bagi kebuntuan masalah agama kita? Masyarakat saat ini terus diseret oleh gelimang kerusakan global. Para perusak akhir zaman—yang membawa narasi Dajjal dengan tipu daya yang sangat halus, serta gelombang kekacauan seperti Yakjuj dan Makjuj yang melanda dari segala penjuru—telah merancang sistem yang membuat manusia lupa pada Allah. Berita palsu, polarisasi, kerusakan lingkungan, ketidakadilan ekonomi, dan peperangan adalah wujud nyata dari kerusakan tersebut.

Umat Islam tidak bisa tinggal diam. Ritual melempar jumroh mengajarkan bahwa perlawanan terhadap kebatilan harus konkret, bukan sekadar sikap pasif. Dakwah di era modern menuntut inovasi: pemanfaatan media sosial untuk kebaikan, pengembangan ekonomi syariah yang berkeadilan, pendidikan berbasis akhlak, serta gerakan sosial yang membebaskan masyarakat dari belenggu sistem yang zalim.

Menuju Kesadaran Baru Paska Hari Raya Idul Adha

Mari kita jadikan momentum Idul Adha tahun ini sebagai titik tolak membangun kesadaran baru. Bekal yang lebih memadai diperlukan menghadapi masa depan yang tidak mudah. Melempar jumroh mengajarkan bahwa melawan kejahatan adalah tindakan berulang, konsisten, dan tidak kenal lelah. Sebagaimana jamaah haji melempar tiga jumroh dalam tiga hari, begitu pula kita harus konsisten melawan tiga musuh utama: hawa nafsu, godaan syetan, dan sistem ketidakadilan.

Dengan bekal ketakwaan, ilmu, dan persaudaraan, kita bisa menghadapi tantangan zaman. Jangan sampai kita justru menjadi pihak yang mengikuti langkah syetan dengan alasan pragmatisme atau keterdesakan. Mari kita lempar segala bentuk kemungkaran dengan batu kebenaran, sebagaimana Ibrahim, Ismail, dan Hajar mengajarkan kepada kita: perangilah syetan, jangan pernah merangkulnya.

Selamat Hari Raya Idul Adha, semoga kita semua termasuk orang-orang yang mengambil pelajaran dari ritual agung ini.


Wallah A'lam

11 Dzulhijjah 1447

Sebelumnya :