Prof Chairil Anwar Siregar, Sosok Ulul Albab yang Memadukan Al-Qur’an dan Ilmu Kehutanan

Prof Chairil Anwar Siregar, Sosok Ulul Albab yang Memadukan Al-Qur’an dan Ilmu Kehutanan

“Itulah mengapa dalam pandangan saya dia termasuk seorang Ulul Albab. Dia seorang yang mampu berpikir tentang ayat-ayat kauniyah dan juga memahami ayat-ayat qauliyah

BOGOR, UMMATTV.COM — Bagi MS Ka’ban, Pembina Yayasan Al I’tisham Budi Agung Bogor sekaligus sahabat dekat Prof. Chairil Anwar Siregar, sosok almarhum bukan sekadar seorang profesor dan peneliti di bidang kehutanan. Ia melihat Chairil sebagai pribadi yang mampu mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kedalaman iman.

“Setiap hamba Allah yang beriman kepada Allah akan melakukan sesuatu yang terbaik dalam hidupnya,” ujar MS Ka’ban ketika mengenang sahabatnya tersebut, usai ditemui masjid Raya Al Hijri Ibn Khaldun UIKA Bogor ahad pagi (13/9/2026).

Menurutnya, perjalanan keilmuan Prof. Chairil berlangsung panjang. Sejak menempuh pendidikan hingga menjadi peneliti di bidang kehutanan, Chairil dikenal sangat tekun mendalami bidang yang digelutinya.

Namun, ada sisi lain yang menurut MS Ka’ban membuat sosok Prof. Chairil begitu istimewa. Di tengah kesibukannya sebagai akademisi dan peneliti, ia juga memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan sangat fasih dan indah.

Lebih dari sekadar kemampuan melantunkan ayat-ayat suci, Chairil juga berusaha memahami makna yang terkandung di dalamnya. Terutama ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam, lingkungan dan kehidupan yang kemudian memiliki keterkaitan erat dengan bidang kehutanan yang ditekuninya.

“Dia bukan hanya sekadar memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan sangat fasih dan indah untuk didengar. Dia juga sangat memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya, terutama ayat-ayat yang berhubungan dengan alam dan dunia kehutanan,” kenang MS Ka’ban, Menteri Kehutanan era Presiden SBY ini.

Bagi MS Ka’ban, perpaduan antara kemampuan memahami Al-Qur’an dan keilmuan kehutanan itulah yang membuat Chairil memiliki cara pandang yang khas. Ia tidak berhenti pada membaca ayat, tetapi berusaha merenungkan, memikirkan, memahami dan kemudian menguatkan pengamalannya dalam kehidupan.

Karena itu, MS Ka’ban menyebut Prof. Chairil sebagai sosok yang masuk dalam kategori Ulul Albab—orang-orang yang menggunakan akal dan hati untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah.

“Dia senantiasa membaca ayat, merenungkannya, memikirkannya, memahaminya dan mencoba memperkuat pengamalannya secara pribadi. Ada konsistensi,” tuturnya

Menghubungkan Ayat dengan Realitas Kehidupan 

Konsistensi tersebut, menurut MS Ka’ban, terlihat dalam cara Prof. Chairil menghubungkan ilmu yang dimilikinya dengan kebutuhan umat.

Salah satu pengalaman yang dikenangnya adalah ketika Chairil terlibat dalam pembahasan mengenai zakat karbon bersama sejumlah ulama dan kiai dari berbagai pesantren.

Saat itu, konsep karbon masih menjadi sesuatu yang relatif baru bagi sebagian kalangan. Para ulama membutuhkan penjelasan mengenai bagaimana karbon diproduksi, bagaimana karbon memiliki nilai ekonomi dan bagaimana konsep tersebut dapat dipahami dalam perspektif zakat.

Di sinilah keilmuan Prof. Chairil menemukan ruang pengabdian yang berbeda.

Dengan latar belakang kehutanan dan penelitian yang dimilikinya, ia dapat menjelaskan persoalan karbon dari sisi keilmuan. Sementara pemahamannya terhadap Al-Qur’an membuatnya mampu berdialog dengan para ulama mengenai bagaimana persoalan tersebut dapat ditempatkan dalam perspektif Islam.

“Dia bertemu dengan kiai-kiai dari banyak pesantren. Ketika ada pembahasan tentang zakat karbon, banyak ulama belum memahami apa itu karbon, bagaimana karbon diproduksi, bagaimana karbon memiliki nilai ekonomi dan bagaimana bisa menjadi sumber penghasilan,” kata MS Ka’ban.

Menurutnya, kemampuan tersebut menunjukkan bahwa ilmu yang dimiliki Prof. Chairil tidak berhenti pada ruang akademik. Ilmu itu justru menjadi jembatan untuk menjawab persoalan-persoalan baru yang dihadapi umat.

Memahami Ayat Qouliyah dan Kauniyah

Dari perjalanan sahabatnya itu, MS Ka’ban melihat ada satu hal penting yang dapat menjadi pelajaran: ilmu agama dan ilmu pengetahuan tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri.

Prof. Chairil, menurutnya, mampu membaca ayat-ayat qauliyah, yakni wahyu Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an, sekaligus membaca ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta.

Kehutanan menjadi salah satu ruang tempat kedua jenis ayat tersebut bertemu.

Hutan, pepohonan, lingkungan dan keseimbangan alam tidak hanya menjadi objek penelitian bagi Chairil, tetapi juga menjadi bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang perlu direnungkan dan dipahami.

“Itulah mengapa dalam pandangan saya dia termasuk seorang Ulul Albab. Dia seorang yang mampu berpikir tentang ayat-ayat kauniyah dan juga memahami ayat-ayat qauliyah,” ujar MS Ka’ban.

Bagi orang-orang yang mengenalnya, jejak Prof. Chairil Anwar Siregar mungkin tidak hanya tertinggal melalui karya-karya akademiknya. Ia juga meninggalkan teladan tentang bagaimana ilmu, iman dan pengabdian kepada umat dapat berjalan beriringan.

Dan bagi MS Ka’ban, mengenang Chairil berarti mengenang seorang sahabat yang berusaha menjadikan ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi jalan untuk semakin mengenal Allah dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Sebelumnya :