Satu kata kunci yang sangat penting diajarkan Rasulullah saw. Perang Badar adalah perang hanya boleh terjadi jika di terdapat cita-cita untuk meninggikan kalimat Laa Ilaaha Illalla
Oleh: : KH Bachtiar Nasir
“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran: 123).
Perang Israel dan Amerika versus Iran semakin memanas. Perang Iran versus Amerika–Israel ini bukanlah perang agama, melainkan perang hegemoni. Disinyalir, Trump memang sudah lama mengincar Pulau Kharg yang merupakan terminal utama ekspor minyak mentah Iran.
Iran juga telah lama melancarkan proyek Bulan Sabit Persia, yang targetnya membentang meliputi Iran, Irak, Suriah, Libanon Selatan, dan Yaman. Wilayah yang belum tercakup saat ini adalah Palestina. Setelah itu, Iran diperkirakan dapat memperluas pengaruhnya hingga menguasai kawasan Teluk.
Israel dan Amerika Serikat yang saat ini menjajah wilayah Palestina tentu merasa terganggu dengan langkah tersebut. Belum lagi Turki dan Qatar di forum BOP yang berunding untuk menjatuhkan Netanyahu. Situasi ini membuat Netanyahu “kebakaran jenggot”, lalu dibukalah Epstein file, termasuk yang berkaitan dengan Trump. Dengan adanya file tersebut, Trump kemudian ditekan oleh Israel untuk menyerang Iran yang dianggap menghalangi pembentukan Israel Raya antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris.
Karena itu, jangan sampai kita justru sibuk berdebat membela salah satu pihak, sementara kita sendiri belum tahu apa yang bisa kita lakukan untuk membela Masjidil Aqsha dan kaum Muslimin di Palestina, yang menjadi objek perebutan tersebut.
Nah, sekarang adalah momentum di ruang-ruang i’tikaf ini untuk membersamai Masjidil Aqsha dengan apa pun yang mampu kita lakukan. Mungkin kita tidak bisa membersamai mereka melalui pendekatan militer, tetapi kita masih bisa mendampingi mereka melalui media, pemberitaan, ekonomi, dan berbagai upaya lainnya.
Semangat Badar
Dengan kehendak Allah, Perang Badar juga terjadi pada bulan Ramadhan. Rasulullah saw beserta para sahabat pada saat itu sebenarnya tidak berniat berperang, tetapi mereka tetap siap secara psikis jika harus menghadapi peperangan.
Ketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memiliki sekitar 313 pasukan, sebagian besar pasukan infanteri, dengan beberapa pasukan berkuda.
Perang Badar tidak dimulai dengan mengasah pedang, melainkan dengan mengasah iman dan takwa. Perang Badar bermula ketika kafilah dagang Abu Sufyan dihadang dan diblokir secara ekonomi, karena mereka berasal dari kaum yang memerangi Allah dan Rasulullah Shallallahu wa alaihi wa sallam membunuh para sahabat, serta menyerang dakwah Islam baik secara fisik maupun psikis.
Perang Badar kerap terlupakan dari spirit Ramadhan kita, padahal ia adalah peristiwa besar yang benar-benar terjadi dengan skenario yang diatur langsung oleh Allah Azza wa Jalla.
Perang Badar sendiri merupakan manifestasi blueprint kemenangan umat, yang di dalamnya tergambar jelas strategi, kepemimpinan, dan intervensi Ilahiyah. Jika dilihat dari jumlah pasukan, kemenangan kaum Muslimin tampak sangat sulit. Pasukan Quraisy ketika itu berjumlah sekitar 1.000 orang, dengan kuda dan pasukan pemanah yang lengkap.
Oleh karena itu, Perang Badar sejatinya bukan sekadar kalkulasi kekuatan fisik, melainkan pembuktian iman pada saat yang paling kritis.
“… jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari Furqan, yaitu hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfal: 41).
Begitu pula dengan momentum i’tikaf kita. Ada yang datang ke masjid dengan label i’tikaf hanya sekadar berpindah tempat tidur, bermain ponsel lebih banyak daripada tilawah, lalu rebahan sambil menunggu waktu sahur.
Namun, ada pula yang datang ke masjid dengan niat yang sungguh-sungguh untuk membentuk jiwa.
*Belajar dari Badar*
Inilah Ramadhan—hari pembeda. Ia membedakan mana orang-orang yang benar-benar datang pada bulan Ramadhan untuk membuktikan kemurnian iman dan semangat ibadahnya, dan mana yang hanya sekadar bermain-main di hadapan Allah Azza wa Jalla.
Layaknya Perang Badar yang membuka tabir dengan jelas: mana orang-orang yang beriman dan mana yang berpura-pura.
Perang Badar juga mengajarkan kepada kita bahwa perang—apa pun bentuknya—harus dilakukan karena Allah Ta’ala, bukan karena nafsu hegemoni, harta, gengsi, apalagi ego kesukuan atau nasionalisme semata.
Dibutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki keberanian, ketajaman akal, dan kejernihan tauhid untuk memimpin umat melewati masa-masa tersulit. Dalam Perang Badar, kita melihat bagaimana interaksi antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya dilandasi oleh cinta karena Allah Ta’ala.
Di Perang Badar, kita menyaksikan sosok Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang begitu dicintai para sahabat dan umatnya—sosok yang melandaskan segala perbuatannya semata-mata karena Allah.
Satu kata kunci yang sangat penting diajarkan Rasulullah saw. dalam Perang Badar adalah bahwa perang hanya boleh terjadi jika di dalamnya terdapat cita-cita untuk meninggikan kalimat Laa Ilaaha Illallah serta mewujudkan penghambaan kepada Allah sebagaimana firman-Nya: iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.
Semua itu beliau ajarkan dan buktikan dengan taruhan nyawa di Perang Badar, pada bulan Ramadhan.
Karena itu, sangat penting kiranya pada bulan Ramadhan ini—dan juga pada bulan-bulan lainnya—kita menempatkan kesadaran bertauhid dan semangat pengabdian kepada Allah Ta’ala sebagai cara hidup kita di dunia ini.*