PONTIANAK UMMATTV.COM – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola dibawah Yayasan Wadah Merah Putih Kalimantan Barat, menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan sejak mulai beroperasi pada 1 April 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya penyediaan makanan bergizi (MBG) bagi para siswa di sejumlah sekolah, dan posyandu sekaligus memperkuat standar layanan dapur gizi yang profesional dan terpercaya.
Saat dihubungi melalui komunikasi WhatsApp, selaku perwakilan Yayasan, mengemukakan tentang perkembangan dan operasional kerja SPPG yang dipimpinnya, Senin, (27/4/2026).
Di wilayah Kalimantan Barat sendiri, saat ini telah dirancang dua hingga tiga dapur SPPG. Untuk dapur di Pontianak, lokasinya berada di area yang didominasi kafe, sehingga jangkauan penerima manfaat lebih terbatas dibandingkan wilayah lain. Berbeda dengan SPPG di Singkawang yang berada di tengah permukiman warga, sehingga mendapat dukungan luas dari masyarakat sekitar.
“Di Singkawang, respons masyarakat sangat positif karena berada langsung di lingkungan pemukiman. Sementara di Pontianak, karena lokasinya lebih ke area usaha, penerima manfaatnya lebih selektif,” ungkap pihak pengelola.
Standar Ketat dan Tim Berpengalaman
SPPG Pontianak menekankan standar tinggi dalam operasionalnya, mulai dari pengolahan makanan hingga pengelolaan limbah. Sistem pengawasan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) diterapkan secara ketat untuk memastikan tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Selain itu, tim yang terlibat merupakan tenaga profesional berpengalaman, mulai dari kepala SPPG, ahli gizi, hingga akuntan. Kolaborasi ini dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga kualitas layanan.
Yayasan juga menekankan pentingnya kualitas menu. Ahli gizi didorong untuk menyusun menu yang tidak hanya memenuhi, tetapi juga melampaui standar gizi yang ditetapkan. Jika ditemukan menu yang kurang optimal, evaluasi langsung dilakukan.
Sekolah Bisa Request Menu, Layanan Fleksibel
Salah satu keunikan SPPG ini adalah fleksibilitas layanan terhadap sekolah mitra. Pihak sekolah bahkan diberikan kesempatan untuk mengajukan permintaan menu.
“Sekolah bisa request menu, misalnya ingin menu daging di pekan tertentu, itu kita atur. Hubungan kami dengan sekolah sangat baik,” jelas pengelola.
Saat ini, SPPG Pontianak menangani beberapa sekolah, termasuk sekolah besar tingkat SD hingga SMP, serta sekolah swasta berbasis Islam. Menariknya, dapur ini juga melayani sekolah dengan jam masuk siang—yang umumnya dihindari oleh dapur lain karena membutuhkan dua kali proses memasak.
Untuk mengatasi hal tersebut, SPPG menerapkan sistem dua shift: tim pagi untuk kebutuhan pagi, dan tim siang untuk memasak makanan segar bagi siswa yang masuk siang.
Kualitas Terjaga, Tanpa Kompromi
Dalam menjaga kualitas, SPPG menerapkan sistem quality control ketat. Tidak ada toleransi terhadap bahan makanan yang bermasalah, meskipun hanya sebagian kecil.
Contohnya, saat ditemukan buah matoa yang tampak baik dari luar namun ternyata berulat, seluruh stok langsung diganti. Hal serupa juga dilakukan pada buah apel yang kualitasnya tidak merata.
“Walaupun hanya sebagian yang rusak, tetap kami ganti semua. Ini untuk menjaga kepercayaan sekolah,” tegasnya.
Hingga kini, tidak pernah ditemukan kasus makanan basi setelah didistribusikan ke sekolah, menandakan standar pengolahan dan distribusi berjalan optimal.
Bangun Kekompakan Tim
Tidak hanya fokus pada operasional, manajemen juga membangun kekompakan tim melalui kegiatan bersama, seperti olahraga di akhir pekan. Para juru masak (chef) yang direkrut pun berasal dari latar belakang profesional, termasuk dari industri perhotelan, dengan tambahan insentif dari yayasan.
Produksi makanan berjalan enam hari dalam sepekan, dari Senin hingga Sabtu, dengan hari Minggu sebagai waktu istirahat penuh sebelum kembali beroperasi pada Senin malam.
Awal Positif untuk Perbaikan Gizi
Dengan berbagai inovasi dan standar tinggi yang diterapkan, SPPG Yayasan di Pontianak diharapkan menjadi contoh bahwa dapur MBG mampu menghadirkan layanan berkualitas, tidak monoton, serta responsif terhadap kebutuhan sekolah.
Program ini juga menjadi langkah awal yang positif dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan pemenuhan gizi yang profesional dan berkelanjutan di Kalimantan Barat.