• +62852-9938-0971

(Seri Tadabbur Qur'an) Penyebab Dosa & Kelalaian (Bag. 1)

(Seri Tadabbur Qur'an) Penyebab Dosa & Kelalaian  (Bag. 1)

Sebagaimana telah kami sebutkan di mukaddimah tulisan bahwa materi ini akan dikaji dan dikembangkan dari surat al Anbiya (21) ayat 1-2. 

Oleh : Dr. Samsul Basri

Sebagaimana telah kami sebutkan di mukaddimah tulisan bahwa materi ini akan dikaji dan dikembangkan dari surat al Anbiya (21) ayat 1-2. Mari buka mushaf, baca dan tadabburilah ayat yang mulia ini:

ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ

Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat).

مَا يَأۡتِيهِم مِّن ذِكۡرٖ مِّن رَّبِّهِم مُّحۡدَثٍ إِلَّا ٱسۡتَمَعُوهُ وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ

Setiap diturunkan kepada mereka ayat-ayat yang baru dari Tuhan, mereka mendengarkannya sambil bermain-main.

Melalui dua ayat yang mulia ini ada tiga pelajaran penting bagi kita semua khususnya ummat Islam. Pelajaran pertama dengan mentadabburi ayat yang pertama. Pelajaran kedua dengan mentadabburi ayat kedua. Dan pelajaran ketiga adalah hubungan antara ayat pertama dan ayat yang kedua.

Fokus tulisan kali ini hanya pada ayat pertama untuk mengungkap pelajaran yang pertama. Bacalah sekali lagi ayat yang pertama,

ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ

Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat).

Allah mengabarkan bahwa yaitu perhitungan amal manusia hari kiamat sangat sangat sangat dekat. Hari kiamat itu bisa bermakna berpisahnya ruh dari jasad dan bisa bermakna kehancuran alam semesta. Untuk menghemat tulisan, penekanan yang ingin kami titik beratkan adalah perhitungan amal manusia bermakna Berpisahnya ruh dari jasad yang berarti kematian. Sehingga telah semakin dekat bagi manusia kematiannya. Untuk menunjukkan semakin dekatnya kematian itu, Allah memilihkan kata kerja Iqtaraba bermakna telah menuju kepada sesuatu. Dan sesuatu yang dituju tidak lagi disebut jauh. Dan kematian adalah sesuatu yang dituju. Sehingga kematian itu sangat dekat.

Karena kematian adalah sesuatu yang dituju, menjadikan setiap hari, jam, menit hingga detik yang dilalui manusia, hanya mendekatkan manusia dengan kematiannya. Setiap tempat yang dikunjungi atau dipijaki manusia haya mendekatkannya pada kematiannya. Dan setiap kondisi yang sedang dijalani manusia, sedang berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring. Sedang Makan atau minum. Sedang bahagia atau sedih. Atau aktivitas apa pun namanya, hanya mendekatkan manusia dengan kematiannya. 

Anehnya, walau kematian bagi manusia sangat dekat dan semakin dekat. Tetap saja manusia dalam kondisi lalai dan berpaling. Dalam kondisi lalai maksudnya melalaikan amal shalih (wajib/sunnah) seperti melalaikan shalat wajib dan shalat sunnah, melalaikan puasa wajib dan sunnah, melalaikan tadarrus al Qur'an rutin setiap hari, melalaikan rutin dzikir pagi dan petang, dlsb. Sedangkan kondisi berpaling maksudnya melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariat Allah, Melakukan kesyirikan, melakukan aktivitas sihir, melakukan riba, durhaka pada orang tua, membunuh jiwa tanpa hak, berzina, melakukan fitnah, curang dalam takaran dan timbangan, dlsb.

Apa yang menyebabkan manusia melakukan kelalaian?!

Mari tadabburi QS. Al Ma'aarij ayat ke-6 dan 7,

إِنَّهُمۡ يَرَوۡنَهُۥ بَعِيدٗا

Mereka memandang (azab) itu jauh (mustahil).


وَنَرَىٰهُ قَرِيبٗا

Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi).

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa azab itu bermakna azab kubur dan azab pada hari kiamat. Pintunya jelas adalah kematian. Manusia melihat kematian masih jauh darinya, bahkan manusia super sombong menganggap seoalah kematian tidak akan menimpanya. Padahal Allah yang telah menetapkan jatah lama hidup manusia di dunia, telah mengingatkan bahwa kematian itu sangat dekat pada manusia.

Dari surat Al Ma'arij di atas, terungkaplah bahwa penyebab manusia berani melalaikan sejumlah ketaatan adalah karena merasa bahwa kamatian masih jauh darinya. Dia melihat kematian dekat pada orang lain. Dekat pada tetangganya, sahabatnya, atau keluarganya tapi dia merasa kematian masih jauh dari dirinya. Tak heran orang seperti ini menyaksikan banyak peristiwa kematian, bahkan ikut melayat jenazah, tapi setelah semua itu, tetap saja amal shalihnya tidak semakin baik dan berkualitas. Tetap saja shalat 5 waktu dilalaikan. Tetap saja merasa nggak cukup waktu untuk dzikir dan ibadah sunnah. Dlsb. 

Adapun penyebab manusia berpaling dari akhirat atau berani melakukan sejumlah dosa dan maksiat, insya Allah akan kami share pada tulisan berikutnya.

~*~

Terlepas dari isu dan teror Musibah covid-19 sebagai makar atau konspirasi,  saya hanya mengambil hikmah mengajak diri saya dan ummat Islam. Bahwa musibah ini untuk mengingatkan dan menyadarkan kita bahwa kematian sangat dekat jaraknya dengan diri kita. Mungkin sebelum isu dan teror covid-19 inu banyak yang melupakan Allah, banyak yang merasa tidak butuh ibadah dan banyak yang merasa berumur panjang sehingga menunda nunda kebaikan. Tapi dengan isu dan teror ini, saya sendiri dan semoga anda semua mulai mnyadari bahwa hidup ini sangat indah, hidup ini sangat berarti, harus disyukuri dan dihargai dengan cara yang Allah kehendaki yaitu Ibadah.

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Surat Adz-Dzariyat, Ayat 56)

Sebelumnya :
Selanjutnya :