• +62852-9938-0971

Sucikan Nama Tuhanmu

Sucikan Nama Tuhanmu

Banyak manusia yang berperasangka buruk kepada Allah melalui takdir kauniyah-Nya.

(Tadabbur QS. Al A'la (87):1)

(Bag.1)


Oleh : 

Dr. Samsul Basri


Allah, Azza Wa Jalla berfirman,

سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى

Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,


Ada tiga poin penting untuk ditdabburi dari satu ayat yang mulia ini. 

Pertama,  Renungilah kalimat perintah "Sabbih" (Sucikanlah!). Sebagai muslim, "Kita" diperintah untuk selalu ber-Tasbih (Mensucikan nama Allah). Ber-_Tasbih_ maksudnya melakukan amalan yang mencakup hati, lisan, dan perbuatan yang senantiasa mensucikan, membersihkan, atau menjauhkan Allah dari persangkaan buruk kebanyakan manusia tentang-Allah, dan dari segala sifat buruk yang dialamatkan oleh orang-orang Kafir dan orang-orang munafik kepada Allah.

Banyak manusia yang berperasangka buruk kepada Allah melalui takdir kauniyah-Nya. Misalnya, ketika hujan turun, terdengar ucapan ketidakridhoan manusia, "Hujan lagi... Hujan lagi". Secara tak sadar dia menyalahkan Allah yang telah menurunkan hujan. Menurutnya, karena hujan turun, aktivitasnya menjadi terganggu. Atau ketika cuaca panas terik, dengan kesal, entah kepada siapa, sering terlontar di mulut banyak manusia, "Duh,,,  kenapa cuaca panas sekali?!! Bisa hangus terbakar kulit kalau seperti ini.". Di Tengah teror pandemi covid-19 yang masih menggurita, tidak sedikit mereka yang terdampak dan terpapar karenanya menjadi berputus asa, lalu melontarkan kemarahan ke langit, "Sampai kapan kami harus menderita seperti ini?!!!." dll. 

Disinilah "Kita" belajar berhusnu dzhan kepada Allah dengan segala kehendak-Nya, Rasulullah Saw mendidik "Kita" bersikap demikian melalui sabdnya:

قَالَ لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ

"Janganlah kalian mencela masa, Karena sesungguhnya Allahlah pencipta masa."

Selain itu, Allah juga harus disucikan dari segala sifat buruk yang dialamatkan orang-orang kafir dan orang-orang munafik kepada Allah. Diantara perkataan mereka:

Dan orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” (QS. 5 : 64).

Bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, (QS. 5: 74).

“Allah mengambil seorang anak.” (QS. 18:4).

Masih ada sejumlah contoh perkataan kaum kafir dan kaum munafik di dalam Al Qur'an yang menunjukkan aib dan buruknya sifat yang mereka Alamatkan kepada Allah. Dan Allah terbebas dari sifat buruk yang mereka sifatkan itu. Mensucikan Allah dari tuduhan- tuduhan mereka adalah dengan memahami dan mengkaji secara benar surat al ikhlas.

Kedua, Perhatikan terjemahan keseluruhan ayat tersebut, _Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,_ salah satu nama Allah yang Maha Tinggi adalah Al 'Aliyyu yang artinya "Allah yang Maha Tinngi".


Nama Allah "Al' Aliyyu" disebut sebanyak delapan kali di dalam Al Qur'an.

- QS. Al Baqarah(02): 255

- QS. Asy Syura (42):4

- QS. An Nisa (4) : 34

- QS. Al Isra (17): 43

- QS. Al Hajj (22): 62

- QS. Lukman. (31): 30

- QS. QS. Saba (34): 23

- QS. Ghafir (40): 12


Jika anda membuka kedelapan ayat di atas, anda akan mendapati nama Allah "Al 'Aliy" disandingkan dengan dua nama Allah yang lain. Yaitu "Al Adzhim" dan "Al Kabir", yang keduanya bermakna "yang Maha Besar". Maksudnya, "Maha Tinggi" selalu disandingkan dengan "Maha Besar". Maka Allah Azza Wa Jalla Maha Tinggi lagi Maha Besar. 

Ada Tiga rahasia Penggandengan "Maha Tinggi" dengan "Maha Besar":

(1) Menunjukkan sifat Allah yang Maha Sempurna. Makhluk, sebut saja manusia, dikatakan sempurna fisiknya jika tinggi dan besar. Akan menjadi tidak ideal atau tidak sempurna fisik seseorang yang terlihat  tinggi kecil, atau terlihat besar tapi pendek. Jika manusia menjadi sempurna dengan sifat "Tinggi Besar", maka sungguh Allah lebih berhak dengan sifat kesempurnaan itu karena Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. 

(2) Makhluk yang besar, akan menjadi terlihat kecil ketika berada pada ketinggian. Sedangkan Allah dengan sifat "Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar" tidak menjadi kecil karena kemahatinggian-Nya. 

(3) Makhluk jika berada pada ketinggian maka dia akan menjadi sangat jauh. Sedangkan Allah dengan sifat yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, meskipun Allah Maha Tinggi dzat-Nya akan tetapi Allah Maha dekat dengan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman, 

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ وَنَحۡنُ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Surat Qaf, Ayat 16) .

Lantas bagaimana mensucikan Nama Allah yang Maha Tinggi? Insya Allah akan diuraikan pada tulisan berikutnya (Bag. 2).


~Bersambung~

Semoga Allah menghadirkan kecintaan dan kerinduan yang besar di hati-hati "kita" umat Islam, untuk selalu mentadabburi ayat ayat Allah yang Mulia. Dan semoga Allah tidak mengunci hati kita dari mentdabburi ayat-ayat-Nya. 

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ

Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur'an ataukah hati mereka sudah terkunci? (Surat Muhammad, Ayat 24).*

Sebelumnya :
Selanjutnya :