Pertemuan tersebut mempertemukan dua institusi pendidikan Islam dengan semangat yang sama, namun perjalanan yang berbeda
MAKASSAR UMMATTV.COM – Suasana hangat langsung terasa saat rombongan IAI STIBA Makassar tiba di Gedung Rektorat Universitas Muslim Indonesia (UMI), Kamis (30/4/2026). Penyambutan penuh keakraban dari jajaran pimpinan UMI menjadikan kunjungan studi banding ini lebih dari sekadar agenda formalitas.
Pertemuan tersebut mempertemukan dua institusi pendidikan Islam dengan semangat yang sama, namun perjalanan yang berbeda. UMI sebagai kampus senior yang berdiri sejak 23 Juni 1954 kini memiliki 13 fakultas, 67 program studi, dan akreditasi Unggul. Sementara IAI STIBA Makassar hadir sebagai institusi yang lebih muda, namun tumbuh dengan visi yang kuat dan arah yang jelas.
Rektor IAI STIBA Makassar, Ustaz Akhmad Hanafi Dain Yunta, Lc., M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa kedatangan mereka ke UMI dilandasi semangat belajar dari kampus yang telah lebih dahulu maju.
“Institut Agama Islam STIBA Makassar adalah institusi yang baru mulai belajar. Kalau dibandingkan usia UMI yang luar biasa, kita ini baru belajar berjalan. Mudah-mudahan bisa mengambil banyak pelajaran dari institusi ini,” ujarnya.
Ia juga menuturkan sejarah berdirinya STIBA Makassar pada tahun 1998, digagas oleh para asatidz alumni Timur Tengah yang dipimpin Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin. Dari gagasan itulah lahir institusi pendidikan tinggi formal pertama milik Wahdah Islamiyah.
Kini, STIBA berkembang menjadi Institut Agama Islam dengan dua fakultas: Fakultas Syariah dan Hukum serta Fakultas Ushuluddin dan Tarbiyah. Program studinya meliputi Perbandingan Mazhab, Hukum Ekonomi Syariah, Pendidikan Bahasa Arab, Ilmu Hadis, hingga Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
Salah satu capaian terbaru yang menjadi kebanggaan adalah dibukanya program magister S-2 Perbandingan Mazhab, yang disebut sebagai satu-satunya di Indonesia.
“Bahkan UIN pun, seluruh Indonesia belum punya prodi S-2 untuk Perbandingan Mazhab,” ungkapnya penuh syukur.
Sementara itu, Wakil Rektor I UMI, Prof. Dr. Ir. H. Dirgahayu A. Lantara, M.T., IPM., ASEAN Eng., menyambut rombongan STIBA dengan suasana cair dan penuh kehangatan. Ia menilai kehadiran STIBA justru membuka peluang kerja sama baru, terutama dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis nilai-nilai keislaman.
“Pendekatan religi dalam penelitian dan pengabdian masyarakat masih relatif rendah di kami. Lebih banyak engineering dan sosial. Barangkali dari STIBA bisa memberikan gambaran,” katanya.
Ia juga berbagi pengalaman bagaimana inspirasi penelitian pernah ia temukan dari refleksi Surah Al-‘Ashr, khususnya tentang manajemen waktu yang relevan dengan teori-teori akademik modern.
Kunjungan ini menunjukkan bahwa hubungan antarperguruan tinggi bukan hanya soal perbandingan kapasitas, tetapi bagaimana saling melengkapi. STIBA hadir dengan kekuatan kajian keislaman, sedangkan UMI memiliki pengalaman panjang dan sistem kelembagaan yang matang.
Menutup sambutannya, Rektor IAI STIBA berharap silaturahmi tersebut terus berlanjut. “Mudah-mudahan ini bukan kunjungan resmi yang pertama dan terakhir, tapi insyaallah akan dilanjutkan dengan kunjungan berikutnya.”pungkasnya.
Dengan nada bercanda, STIBA menyebut diri sebagai “cucu” dari UMI. Jika demikian, maka pertemuan ini layaknya reuni keluarga besar yang lama tertunda—dan semoga menjadi awal kolaborasi panjang yang penuh keberkahan.