• +62852-9938-0971

Ilmuilah Tentang Allah Azza Wajalla

Ilmuilah Tentang Allah Azza Wajalla

Jika anda seorang dosen, atau guru, atau ustadz, cobalah Anda tanyakan kepada mahasiswa Anda, siswa Anda, atau jamaah Anda, pertanyaan sederhana, "Siapakah Allah?!"

(Tadabbur QS. Muhammad :19)

Oleh : Dr. Samsul Basri


BAGI kaum muslimin yang rutin tadarrus Al Qur'an di hari hari yang mulia Ramadhan, jika tadarrus anda telah sampai pada surat Muhammad, berhentilah sejenak di ayat ke-19, baca, ulangi dan renungkanlah penggalan di awal ayat: 

فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ...

"Maka ilmuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah ..." (Surat Muhammad, Ayat 19).

Saudaraku fillah, tidaklah Allah memerintahkan "Kita" mengilmui, mengenali, atau mengetahui tentang diri-Nya melainkan karena ilmu yang menjelaskan tentang diri-Nya adalah ilmu yang sangat tinggi kedudukannya dalam Islam dan sangat mulia di sisi-Nya. Dan ilmu itu adalah ilmu tentang Al Asma wa Al Shifat (nama nama Allah dan sifat sifat-Nya yang Maha Mulia).

Tapi teramat disayangkan, karena tidak sedikit dari manusia khususnya umat Islam yang melalaikan dan melupakan ilmu ini. Tak heran di tengah musibah pandemi covid-19 ini, aksi kejahatan, kecurangan, penipuan, egoisme, ketamakan, keserakahan, tawuran sampai rebut makan yang berakhir dengan perkelahian, dll, masih dilakoni oleh sejumlah manusia ber-KTP muslim. Sangat menyedihkan jika pemandangan seperti ini yang banyak disaksikan.

Jika anda seorang dosen, atau guru, atau ustadz, cobalah Anda tanyakan kepada mahasiswa Anda, siswa Anda, atau jamaah Anda, pertanyaan sederhana, "Siapakah Allah?!"

Perhatikanlah ekspresi dan reaksi yang ditanya itu! Diantara mereka ada yang bingung mau jawab apa. Ada yang hanya tersenyum garuk garuk kepala yang tidak gatal. Ada juga yang berusaha menjawab, namun dengan jawaban yang pas-pasan, "Dia-lah Tuhan yang Menghidupkan dan yang Mematikan".

Bahkan ada yang menjawab dengan jawaban yang tidak layak bagi Allah. Menyamakan Allah dengan makhluk.  Yaitu ketika dia menjawab, "Allah itu raja dua alam, raja manusia." Sampai di sini sih aman aman saja. Jawabanya benar. Tetapi yang salah adalah pemahaman dia tentang raja. Bahwa yang namanya raja, untuk bisa sampai dan bertemu dengannya membutuhkan sejumlah SOP yang ketat. Seseorang membutuhkan perantara-perantara dari kalangan yang terdekat dengan raja, seperti perdana mentri, atau yang semisalnya. 

Nah, menurutnya, orang yang terdekat dengan Allah adalah orang-orang shaleh. Sehingga perlu mendatangi kuburan kuburan orang saleh sebagai perantara. Jika pemahaman ini tidak segera diluruskan, pada akhirnya akan meluaslah penyimpangan akidah dan bertambahlah jumlah pengikut yang bertawassul (menjadikan kuburan orang saleh sebagai perantara) dan bertabarruk (memohon berkah) di kuburan orang saleh.

Sekali lagi renungi dan fikirkanlah bahwa mengilmui tentang Allah adalah perkara yang sangat penting dan utama,

 فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah." (Surat Muhammad, Ayat 19).

Adakah orang yang sedang melakukan maksiat menyebut nama Allah?!

Hal ini menunjukkan bahwa mengenal Allah akan menghadirkan kecintaan kepada Allah. Cinta kepada Allah akan menambah ketakwaan kepada-Nya. Karena itulah orang yang berilmu akan semakin takut kepada Allah. Karena dia semakin mengenal-Nya.

 ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

"Diantara hamba-ba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun." (Surat Fathir, Ayat 28).

Sebagai da'i, ustadz, guru, hendaknya "Kita" mengajarkan manusia tentang Allah bukan sekadar atau sebatas teori saja tapi juga bagaimana tahapan  implementasinya di kehidupan nyata. 

Saudara fillah, nama-nama Allah itu bersifat Taufqifiyyah (berdasarkan dalil). Maka namakanlah dan sifatkanlah Allah dengan sesuatu yang Dia tekah menamakan dan mensifatkan diri-Nya dengannya. Baik dengan merujuk kepada Al Qur'an atau pun hadits.

لَوْ تَلَفَّظَتِ الأَحْجَارُ وَتَكَلَّمَتِ الأَشْجَارُ وَتَحَدَّثَتِ الأَطْيَارُ  لَقَالَتْ : لا إله إلا الله الواحد القهر.

"Sekiranya bebatuan melafadzkan sesuatu, pepohonan menyampaikan sesuatu, dan para burung bercakap tentang sesuatu. Tentulah yang yang keluar dari lisan mereka: "Tidak ada Tuhan yan berhak disembah melainkan Allah yang Maha Tunggal dan Maha Perkasa."

Saudara Fillah, sampaikalah kepada sanak famili, dan handai tolan bahwa Mengenal nama nama Allah bukan hanya bunyi, tapi juga mengetahui makna dan implementasinya. Supaya keimanan yang melekat pada "Hati" tentang Allah harus menguatkan jiwa, bahwa Allah selalu membersamai hidup kita, melihat dan mengawasi tindak tanduk "Kita" baik yang terbesik di hati, yang terucap di lisan dan yang terbuat oleh anggota tubuh. 

Imam Ibnul Qayyim rah.a menyebutkan dua tip mengenal Allah, yaitu : Fikirkanlah ayat-ayat kauniyyah-Nya. dan Tadabburilah ayat-ayat Tanziliyah-Nya.

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah Saw menenangkan Abu Bakar ra ketika di gua Tsur  seraya berkata : Laa Tahzan, Innallaaha ma'anaa. “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Ingatlah kisah Ibrahim as ketika akan dilempar masuk ke dalam kobaran api yang sangat besar. Jibril pun satang menghampuri seraya berkata: "Wahai Ibrahim apakah engkau memiliki hajat?".  Ibrahim as menjawab, spontan, "Kepada Allah, iya!, saya berhajat. Kepada engkau, tidak!."

Ingatlah pula kisah Hajar as menggendong Ismail yang masih menyusu di lembah Mekkah yang tandus dan kering. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Namun dia rela, dirinya dan bayinya ditingalkan oleh suaminya demi menjalankan ketaatan kpd Allah. Kepada suaminya, dia berkata : "Pergilah wahai suamiku sebab Allah tidak akan meninggalkan dan menyianyiakan kami di sini."

Belajarlah dari Masyita yang rela dibakar hidup-hidup, dan api melahap daging-daging tubuhnya karena berani berkata kepada Fir'aun yang sombong, "Engkau tuanku, tetapi Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu."

Seorang sahabiah dikabarkan tentang 4 anaknya yang gugur di medan jihad. Bukannya menangis histeris, tapi berucap, "Alhamdulillah."

Sampaikan hal ini kepada siapa pun yang terpapar dan terdampak virus pandemi covid-19 bahwa Allah tidak buta dengan apa yang kita usahakan dan perjuangkan. Allah tidak pernah dan tidak akan pernah melalaikan kewajiban-Nya untuk menjamin rezeki hamba-hamba-Nya. Dan Allah tidak akan pernah melupakan janji-Nya untuk menolong orang orang yanh beriman. Akan tetapi Allah berbuat berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya.

Kepadamu saudaraku fillah, pesan ini kutitipkan, kalimat singkat dan sederhana: "Man wajadallaaha famaa faqada. Waman faqadallaaha famaa wajada." (Siapa yang mendapatkan Allah maka tidak ada yang hilang sesuatu apa pun darinya. Namun siapa yang kehilangan Allah maka sejatinya dia kehilangan segala galanya, tidak ada sesuatu apa pun yang dia dapatkan).*

Sebelumnya :
Selanjutnya :