Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, sudah saatnya umat Islam keluar dari jeratan narasi asing dan tampil sebagai ummatan wasathan (umat pertengahan)
Oleh : Salas Aly Temur
27 Ramadhan 1447H
Di bulan Ramadan yang seharusnya menjadi momentum penuh kedamaian dan refleksi spiritual, dunia justru disuguhi panorama perang yang mencekam di kawasan Selat Hormuz. Konflik yang berkecamuk di wilayah strategis ini bukan sekadar pertikaian lokal, melainkan pusaran geopolitik yang menarik banyak aktor global dan berdampak sistemik pada seluruh aspek kehidupan masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Peperangan ini istimewa karena berlangsung dalam format perang modern tiga dimensi: konvensional dengan rudal dan pesawat tempur, proksi melalui kelompok-kelompok yang didukung kekuatan asing, dan siber yang mengaburkan batas antara realitas dan ilusi. Dalam pusaran kebingungan ini, kita kembali diingatkan pada sabda Rasulullah SAW, _"Al-harbu khid'ah"_—perang adalah tipu daya.
Kebenaran sabda ini terkonfirmasi dengan sempurna melalui fenomena viral tentang kematian Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Selama hampir sepekan, publik dunia digegerkan dengan kabar bahwa Netanyahu tewas dalam serangan rudal Iran. Ketidakhadirannya dari ruang publik memperkuat spekulasi. Namun ketika akhirnya muncul, ternyata itu hanyalah unggahan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang kemudian dibongkar oleh netizen. Perang siber telah menciptakan realitas semu yang mampu menggerakkan emosi dan opini publik global. Jika kabar itu benar, kematian Netanyahu akan menjadi pukulan mental dahsyat bagi Amerika Serikat dan rezim Zionis. Sebaliknya, ia akan menjadi booster semangat luar biasa bagi masyarakat Iran dan semua pihak yang membenci Zionisme.
*Pelajaran Sejarah: Kematian Pemimpin Mengubah Peta Perang*
Isu kematian pemimpin di medan perang bukan perkara sepele. Ia memiliki pengaruh psikologis yang mampu mengubah arah pertempuran. Dalam Perang Uhud, isu wafatnya Rasulullah SAW nyaris membuat kaum muslimin tercerai-berai dan mengalami kekalahan telak. Sebaliknya, dalam Perang Badar, kabar kematian Abu Jahal yang sengaja disebarkan membuat pasukan Quraisy kehilangan semangat juang dan mundur dari medan laga, bahkan mental masyarakat Mekkah terpuruk dalam waktu yang lama. Pelajaran ini menunjukkan bahwa di medan perang, faktor mental dan informasi memiliki daya hancur yang tidak kalah dahsyat dari senjata konvensional.
*Dampak Nyata: Energi, Pangan, dan Ketahanan Indonesia*
Namun dampak perang di Selat Hormuz tidak berhenti pada ranah psikologis. Ia merambah ke sektor paling fundamental bagi kehidupan: energi dan pangan. Gangguan di jalur strategis ini menyebabkan gejolak harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak bumi berdampak langsung pada harga pupuk yang merupakan produk turunan minyak fosil. Indonesia, sebagai negara agraris dengan kebutuhan pangan yang besar, terjepit di dua sisi sekaligus: biaya produksi pertanian melambung dan ancaman krisis pangan membayang. Ketahanan pangan nasional berada dalam kondisi rentan. Karena itu, penghentian perang seharusnya menjadi prioritas utama masyarakat dunia.
Sayangnya, jalan menuju perdamaian terasa buntu. PBB yang dirancang sebagai penjaga perdamaian dunia kini dipandang tidak relevan oleh Israel dan Amerika Serikat. Kedua negara ini bertindak di luar koridor hukum internasional dengan impunitas penuh. Zionis Israel bahkan tengah berada pada momentum yang mereka yakini sebagai era kejayaan. Mereka mengalami halusinasi kolektif berdasarkan tafsir Talmud yang serampangan—bahwa mesias (almasih) akan segera datang dan mereka harus mewujudkan "Israel Raya" sebelum kedatangannya. Keyakinan inilah yang menjadi pangkal agresivitas mereka, membuat mereka merasa memiliki legitimasi surgawi untuk mengusir penduduk asli Palestina dan memperluas wilayah.
*Akar Konflik: Distorsi Konsepsi tentang Al-Masih*
Di sinilah kita sampai pada akar terdalam perselisihan yang tak kunjung reda. Konflik berkepanjangan ini sesungguhnya berpangkal dari kesalahan persepsi tentang sosok Al-Masih. Allah SWT dalam Surah An-Naml ayat 76 menegaskan: _"Sesungguhnya Al-Qur'an ini menjelaskan kepada Bani Israil sebagian besar dari (perkara) yang mereka perselisihkan itu."_ Ayat ini menunjukkan bahwa perselisihan global yang melibatkan Bani Israel sebenarnya sudah dijelaskan dalam Al-Qur'an.
Perselisihan itu bermula dari kontradiksi penafsiran tentang mesias di kalangan Bani Israel. Perbedaan ini berlarut-larut hingga mencapai titik yang berlawanan 180 derajat. Dari kontradiksi inilah lahir dua agama besar: Yahudi dan Nasrani. Kaum Yahudi menolak Yesus sebagai Al-Masih yang dijanjikan Allah. Sementara kaum Nasrani justru mengangkatnya sebagai anak Tuhan atau emanasi Allah—sebuah pandangan yang menurut kaum Yahudi merupakan bentuk pelecehan terhadap keesaan Tuhan.
Terhadap pandangan Yahudi yang mengingkari Yesus sebagai Al-Masih, Al-Qur'an memberikan koreksi. Allah menegaskan bahwa Yesus (Nabi Isa a.s.) adalah Al-Masih yang dijanjikan. Sebagai bukti, Al-Qur'an mengabarkan bahwa kelak di akhir zaman, Nabi Isa a.s. akan turun kembali ke dunia untuk meluruskan keyakinan mereka yang menyimpang. Ia akan membuktikan bahwa dirinya adalah utusan Allah, bukan tuhan, dan sekaligus membantah klaim-klaim palsu yang dilontarkan kepadanya.
Terhadap pandangan Nasrani yang mengultuskan Yesus, Al-Qur'an juga memberikan koreksi tegas. Dalam Surah Maryam, Allah menjelaskan bahwa Nabi Isa a.s. bukanlah emanasi Tuhan. Ia hanyalah seorang nabi yang diberi kelebihan, seorang hamba yang dimuliakan. Keistimewaannya terletak pada didampinginya oleh Malaikat Jibril di mana pun ia berada, sehingga keberkahan senantiasa menyertainya dan mukjizat tampak di tangannya. Ia adalah kalimatullah yang ditiupkan kepada Maryam, tetapi tetap dalam bingkai kemanusiaannya sebagai utusan Allah.
Namun sebagian Nasrani hari ini sudah terkooptasi Yahudi melalui ideologi zionisme, inilah fenomena yang terjadi di Eropa Barat dan AS, sedangkan Rusia yang otodox tetap anti zionisme.
*Kabar Gembira yang Terabaikan*
Lebih dari itu, Allah dalam Surah Ash-Shaf ayat 6 mengabadikan sabda Nabi Isa a.s. yang menyampaikan kabar gembira tentang kedatangan seorang rasul setelahnya yang bernama Ahmad (Muhammad SAW). Redaksi ayat ini sangat penting: _"Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: 'Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).'"_
Jika kaum Bani Israel cermat membaca pernyataan Yesus yang terekam dalam Injil, perselisihan mereka tentang mesias seharusnya tuntas dengan hadirnya Nabi Muhammad. Nabi terakhir ini datang membawa ajaran yang meluruskan penyimpangan dan memurnikan kembali tauhid yang diwasiatkan oleh para nabi sebelumnya. Namun sayang, karena kesombongan dan hawa nafsu, mereka mempersepsi salah terhadap kehadiran Nabi Muhammad. Mereka menolaknya meskipun ciri-cirinya telah mereka ketahui dari kitab-kitab suci mereka sendiri. Penolakan inilah yang mengunci pintu perdamaian dan membiarkan perselisihan berlarut-larut hingga hari ini. Iran menganggap narasi mesianik yang dibawa Zionisme adalah narasi tentang AlMasih Dajjal sedangkan Zionisme menganggap Iran dan Rusia sebagai Gog And Magog yang mengganggunya.
*Membangun Narasi Independen Umat Islam*
Dengan konstruksi pemahaman yang utuh ini, umat Islam memiliki posisi yang unik dan strategis. Di tengah pusaran propaganda Zionis Yahudi yang halusinatif dan di tengah kebingungan dunia yang terpolarisasi oleh sentimen agama, umat Islam memiliki narasi independen yang bersumber langsung dari wahyu. Narasi ini tidak memihak pada kekerasan atas nama agama, tidak terjebak dalam provokasi yang memecah belah, dan justru berpotensi menjadi penengah yang adil.
Pemahaman yang benar tentang Isa Al-Masih dalam Islam adalah kunci untuk membongkar kebuntuan teologis yang menjadi akar konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Selama kaum Yahudi masih bergulat dengan halusinasi mesianik versi Talmud, dan selama kaum Nasrani masih terbelenggu oleh doktrin yang mengambang antara ketuhanan dan kemanusiaan Yesus, konflik ini akan terus bergulir tanpa henti. Umat Islam, dengan pemahaman yang lurus dan bersumber dari Al-Qur'an, dapat menjadi jembatan yang melerai perselisihan ini.
Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, sudah saatnya umat Islam keluar dari jeratan narasi asing dan tampil sebagai ummatan wasathan (umat pertengahan) yang menjadi saksi dan penengah bagi seluruh umat manusia. Dengan bekal pemahaman yang benar tentang Al-Masih, dengan kesadaran akan tipu daya perang modern, dan dengan kepedulian terhadap dampak kemanusiaan seperti krisis pangan, umat Islam dapat berkontribusi nyata dalam menciptakan perdamaian dunia. Bukan perdamaian semu yang didikte oleh kepentingan negara adidaya, tetapi perdamaian yang lahir dari pemahaman yang benar tentang kehendak Tuhan dan penghormatan terhadap martabat kemanusiaan.
Wallahu A'lam