Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW di Tengah Ancaman Krisis

Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW di Tengah Ancaman Krisis

Oleh :  Salas Aly Temur 

Oleh: Salas Aly Temur

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzab : 21) 

Ayat di atas turun ketika berkecamuk Perang Khandaq, perang terlama yang dirasakan oleh Rasulullah SAW dengan lokasi di Yastrib ( Madinah) dimana Kota Madinah dikepung oleh Aliansi Quraisy dan suku-suku Arab lainnya serta pengkhiatan dari Yahudi Bani Quraidhah yang tinggal di pinggiran Yastrib dan terikat perjanjian  dengan Rasulullah. 

Perang Khandaq membuat seluruh penduduk Yastrib panik dan ketakutan karena denyut ekonomi juga berhenti. 

Pergerakan ekonomi adalah urat nadi peradaban. Sejak empat belas abad lalu, Al-Qur'an telah mengajarkan korelasi yang erat antara keberlanjutan ekonomi dan rasa aman. Dalam Surah Quraisy, Allah berfirman:

"Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka'bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan." (QS. Quraisy [106]: 1-4)

Ayat ini dengan jelas merangkum dua kebutuhan fundamental manusia: pangan (ekonomi) dan keamanan. Ketika dua pilar ini goyah, sebuah peradaban pun terancam.

Saat ini, di bulan Ramadan yang seharusnya menjadi momen penuh kedamaian, dunia kembali dihadapkan pada ancaman nyata krisis ekonomi yang dipicu oleh eskalasi konflik bersenjata di kawasan Persia—jantung sumber energi dunia.  Kita dapat menarik pelajaran dari kepemimpinan Rasulullah SAW dalam Perang Khandaq untuk menavigasi badai krisis yang mungkin akan segera menerpa.

Ketika Perang Mengganggu Urat Nadi Ekonomi

Ramadan tahun ini datang dengan kabar mencekam. Peperangan yang melibatkan Iran dan Zionis (Israel) yang didukung Amerika Serikat di wilayah Persia dan sekitarnya, memicu kekhawatiran global. Lokus peperangan yang berada tepat di jantung produksi minyak bumi dunia membuat harga komoditas ini bergejolak. Minyak adalah darah yang mengalir di seluruh sendi ekonomi modern. Kenaikan harganya akan berdampak langsung pada ongkos produksi, harga pangan, dan stabilitas ekonomi setiap bangsa. Krisis pasokan minyak yang berkepanjangan bukan sekadar skenario buruk, melainkan momok nyata yang dapat memicu resesi global dan menciptakan kekhawatiran krisis ekonomi yang melumpuhkan.

Indikasi harga minyak yang melambung dan jatuhnya indeks saham di berbagai negara menunjukkan alarm krisis ekonomi di depan mata. Kepemimpinan sebuah negara yang sesungguhnya akan diuji dimasa krisis. 

Mengenang Perang Khandaq: Ujian Panjang di Zaman Rasulullah

Ketika tanda-tanda perdamaian di Teluk Persia masih samar setelah lebih dari sepuluh hari pertempuran, ingatan kita tertuju pada sejarah kepemimpinan Rasulullah SAW. Perang Khandaq (atau Perang Ahzab) adalah momen paling kritis bagi komunitas Muslim awal di Madinah. Ini adalah perang pengeroyokan, di mana pasukan koalisi Quraisy dan suku-suku Arab lainnya, ditambah pengkhianatan Yahudi Bani Quraizhah, mengepung Madinah. Rasulullah dan 3.000 pasukan muslimin bertahan di balik parit, sebuah strategi perang Persia yang digagas oleh Salman Al-Farisi—selama 27 hari penuh tekanan.

Allah SWT melukiskan situasi mencekik itu dalam Al-Qur'an:

"(Ingatlah) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan, dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan diguncangkan hatinya dengan guncangan yang hebat." (QS. Al-Ahzab [33]: 10-11)

Selama hampir sebulan, kaum muslimin bertahan dalam kondisi lapar, takut, dan diuji fisik serta mentalnya. Mereka nyaris kehabisan sumber daya. Namun, yang membuat perbedaan antara kegagalan dan kemenangan adalah kepemimpinan yang hadir di tengah mereka.

Teladan Kepemimpinan di Tengah Krisis

Surah Al-Ahzab ayat 21 meripakan ajakan Allah mengikuti Rasulullah dalam mengelola krisis. 

Rasulullah SAW tidak hanya memerintah dari belakang. Di tengah krisis pangan yang membayangi dan tekanan psikologis yang luar biasa, beliau menunjukkan keteladanan yang menjadi kunci keberkahan dan pertolongan Allah. Tiga hal utama yang bisa kita petik:

1. Keterlibatan Aktif dan Semangat Kolektif: Rasulullah turut serta menggali parit bersama para sahabat, memanggul batu, dan membagikan makanan yang sedikit. Tindakan ini menghapus sekat pemimpin dan rakyat. Beliau adalah sumber semangat di tengah keputusasaan.

2. Keterbukaan terhadap Saran Terbaik: Beliau menerima gagasan strategis dari Salman Al-Farisi untuk menggali parit, sebuah strategi yang asing bagi bangsa Arab saat itu. Ini menunjukkan bahwa pemimpin yang bijak adalah yang mau mendengar dan mengadopsi ide terbaik dari timnya, dari mana pun asalnya.

3. Koneksi Spiritual yang Tak Terputus: Di tengah persiapan perang, Rasulullah tetap membimbing para sahabat untuk terus terhubung dengan Allah. Beliau mengajarkan bahwa ikhtiar maksimal harus dibarengi dengan doa dan tawakal, karena kemenangan sejati datang dari-Nya.

Kepemimpinan seperti inilah yang sangat dibutuhkan saat ini. Di tengah ancaman krisis ekonomi, seorang pemimpin harus hadir menenangkan rakyat, merumuskan strategi bertahan dengan mendengar masukan para ahli, dan menjaga optimisme kolektif agar ketahanan peradaban tidak runtuh hanya karena ketakutan.

Pertolongan Allah: Akhir dari Setiap Kesulitan

Perang Khandaq berakhir bukan karena kekuatan fisik semata, melainkan karena pertolongan Allah. Allah SWT berfirman:

"Dan Allah mengembalikan orang-orang yang kafir itu dengan penuh kemarahan, mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (QS. Al-Ahzab [33]: 25)

Pertolongan itu datang dalam bentuk badai dahsyat (taufan) yang menghancurkan perkemahan pasukan koalisi dan menimbulkan kekacauan di barisan mereka. Ini adalah pengingat bahwa setelah kesabaran dan usaha maksimal, pertolongan Allah akan tiba dengan cara yang tak terduga.

 Refleksi

Ancaman krisis ekonomi yang dipicu konflik global adalah ujian berat bagi peradaban modern. Namun, sebagai seorang mukmin, kita memiliki peta jalan dari masa lalu. Perang Khandaq mengajarkan bahwa krisis akan menguji kesabaran, strategi, dan ketahanan kita. Dari kepemimpinan Rasulullah, kita belajar bahwa kunci melewati badai adalah dengan kepemimpinan yang hadir di tengah kesulitan, mendengarkan saran terbaik, dan menjaga hubungan dengan Allah SWT. Sementara para pemimpin dunia dan bangsa-bangsa berikhtiar menavigasi krisis ini, tugas kita adalah menjaga optimisme, memperkuat solidaritas, dan terus berdoa. Sebagaimana kaum muslimin di masa lalu diuji selama 27 hari, kita mungkin diuji dengan waktu yang tidak diketahui. Namun satu hal yang pasti, setelah kesulitan akan ada kemudahan, dan pertolongan Allah akan datang bagi mereka yang bersabar dan menjaga kesatuan.

Wallah A'lam

Sebelumnya :