Tarikan Dunia yang Dapat Merubah Keikhlasan

Tarikan Dunia yang Dapat Merubah Keikhlasan

Kekhawatiran Rasulullah terbukti. Umat Islam hari ini tidak lemah karena miskin harta, tetapi karena penyakit kronis yang bernama wahn: cinta dunia dan takut mati.

Oleh: Salas Aly Temur

19 Ramadhan 1447


Di tengah dinginnya malam, di bulan Ramadhan yang penuh berkah, 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah, kaum muslimin yang lemah dan sedikit jumlahnya dihadapkan pada pasukan Quraisy yang jauh lebih besar dan lengkap persenjataannya.

 Perang Badar terjadi. Logika perang mengatakan bahwa kaum muslimin akan hancur. Namun, atas izin Allah, kemenangan besar diraih. Tujuh puluh musuh terbunuh, sama banyaknya yang tertawan, dan harta rampasan perang (ghanimah) pun berhasil dikumpulkan. 

Dunia Arab saat itu gempar. Posisi pemerintahan yang dipimpin Rasulullah SAW di Madinah menjadi semakin disegani. Kemenangan ini adalah bukti nyata janji pertolongan Allah.

Namun, ada hal yang sangat menarik dan menjadi pelajaran mendalam dari peristiwa agung ini. Al-Qur'an, dalam membuka lembaran narasi Perang Badar, tidak langsung menyampaikan sanjungan atas kemenangan yang gilang-gemilang.

 Sebaliknya, Allah SWT membuka Surah Al-Anfal dengan sebuah teguran yang halus namun tegas. _"Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, 'Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul...'"_ (QS. Al-Anfal: 1). 

Ayat ini turun bukan untuk merayakan kemenangan, tetapi untuk meluruskan konflik internal yang terjadi sesaat setelah medan perang mereda.

Faktanya, di antara para sahabat yang gagah berani berperang, terjadi tarik-menarik yang sangat manusiawi.

Sebagian dari mereka sibuk mengumpulkan ghanimah, sementara sebagian lainnya, seperti yang digambarkan dalam berbagai riwayat, tetap teguh menjaga keselamatan Rasulullah SAW di tengah situasi yang masih belum sepenuhnya aman.

Konflik kecil tentang pembagian rampasan perang ini mengancam persatuan yang baru saja mereka raih bersama dalam kemenangan.

Mengapa Allah mengangkat "konflik ghanimah" ini menjadi pembuka surah Al Anfal yang agung? Karena hal ini mengandung pesan yang jauh lebih penting dari sekadar meraih kemenangan fisik.

Meraih kemenangan di medan perang bisa dilakukan dengan kesabaran, keberanian, dan kebersamaan. Namun, ketika harta dunia (ghanimah) sudah terhampar di depan mata, di situlah ujian sesungguhnya dimulai. Karakter buruk manusia—ketamakan, egoisme, dan lupa diri—bisa muncul ke permukaan. Untuk itulah, Allah segera menekankan, _"... 

Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman."_ (QS. Al-Anfal: 1). 

Jihad yang paling berat bukan hanya melawan musuh di luar, tetapi juga melawan hawa nafsu sendiri ketika berhadapan dengan gemerlap dunia.

Bahkan, untuk memperkuat fondasi keimanan, Allah langsung mengingatkan karakteristik orang beriman yang sesungguhnya. _"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang jika disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah imannya (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal."_ (QS. Al-Anfal: 2). 

Ini adalah standar tertinggi. Bukan kemenangan atau harta yang menjadi ukuran, melainkan kualitas hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Konflik memperebutkan dunia tidak berhenti di Perang Badar. Ia akan terus terjadi hingga akhir zaman, merusak persaudaraan, memecah belah pertemanan, dan melemahkan perjuangan. Rasulullah SAW dengan pandangan jauh ke depan telah memperingatkan hal ini. 

Dalam sebuah hadits, beliau bersabda, _"Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kamu, tetapi yang aku khawatirkan adalah apabila dibukakan untuk kamu perhiasan dunia sebagaimana telah dibukakan kepada orang-orang sebelum kamu, lalu kamu berlomba-lomba (mendapatkannya) sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan akhirnya dunia itu membinasakan kamu sebagaimana telah membinasakan mereka."_ (HR. Bukhari no. 2924).

 Kekhawatiran Rasulullah terbukti. Umat Islam hari ini tidak lemah karena miskin harta, tetapi karena penyakit kronis yang bernama wahn: cinta dunia dan takut mati.


Penyakit wahn inilah yang membuat umat Islam menjadi penakut dan lemah, sementara musuh-musuhnya dengan leluasa mengatur dan menindas.

Hari ini, kita menyaksikan bagaimana bangsa Arab dipecah belah oleh zionis, bagaimana negara-negara dengan mayoritas muslim di berbagai belahan dunia dijebak oleh sistem kapitalisme global dengan jeratan hutang yang tak pernah tuntas. 

Mereka digiring untuk terus bergantung, sulit keluar dari status sebagai negara berkembang, dan konflik internal tak kunjung reda—semuanya berakar pada rebutan sumber daya dan pengaruh duniawi.


Kemenangan besar di Badar dulu nyaris ternoda oleh rebutan ghanimah. Kini, potensi besar umat Islam hancur karena perebutan dunia yang sama.


Di momentum Ramadhan yang penuh berkah ini, mari kita kembali menyadari hikmah agung dari kasus ghanimah di akhir Perang Badar. Mari kita renungkan, bahwa kemenangan hakiki bukanlah pada seberapa banyak harta dunia yang kita kumpulkan, tetapi pada seberapa murni keikhlasan kita dalam berjuang, seberapa kuat kita menjaga persaudaraan, dan seberapa teguh kita dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya.

 Ramadhan adalah madrasah terbaik untuk melatih diri melepaskan ketergantungan pada dunia, mengendalikan hawa nafsu, dan mengembalikan kesadaran bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jangan biarkan tarikan duniawi merubah keikhlasan kita, sebagaimana ia hampir merubah makna kemenangan di Perang Badar.

 Mari jadikan ketaatan dan ketakwaan sebagai satu-satunya ghanimah yang kita perebutkan.


Wallah A'lam

Sebelumnya :
Selanjutnya :