Oleh : Salas Aly Temur
Ramadan selalu hadir sebagai tamu istimewa yang dinanti-nantikan. Lebih dari sekadar bulan ibadah ritual, ia adalah madrasah ruhiyah yang membentuk karakter mulia, salah satunya adalah sifat kedermawanan.
Dalam khutbahnya di penghujung bulan Sya'ban menjelang Ramadan untuk pertama kalinya, Rasulullah SAW menyampaikan pesan agung bahwa di dalam bulan yang penuh keberkahan ini terdapat muwasah, yaitu semangat solidaritas dan kesalingpedulian antara sesama muslim. Keberkahan Ramadan terletak pada kemampuannya menyuburkan kebaikan demi kebaikan lainnya, dan kedermawanan adalah salah satu buah manis yang tumbuh subur di dalamnya.
Solidaritas yang diajarkan Rasulullah SAW ini memiliki manifestasi yang sangat praktis dan mudah dilakukan, yaitu saling memberi saat waktu berbuka tiba. Betapa indahnya ajaran Islam yang memberikan peluang pahala berlipat ganda kepada siapa saja, bahkan mereka yang tidak memiliki harta berlimpah. Memberi hidangan berbuka, walau hanya dengan seteguk air bening, adalah sedekah yang mampu melipatgandakan pahala puasa. Tindakan sederhana ini bukan hanya soal berbagi makanan, tetapi juga tentang menumbuhkan rasa empati dan kebersamaan yang menjadi fondasi kokoh bagi kehidupan bermasyarakat.
Kedermawanan dalam Islam tidak berhenti pada berbagi makanan berbuka. Sedekah—baik yang wajib dalam bentuk zakat maupun yang sunnah—kepada mereka yang berkekurangan atau tertimpa musibah adalah pilar penting dalam meningkatkan ukhuwah dan ketahanan sosial. Allah SWT dalam Surah Al-Lail ayat 5-10 menegaskan konsekuensi dari kedermawanan dan kekikiran:
_"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran."_
Ayat ini dengan jelas menggambarkan bahwa kedermawanan akan membuka pintu kemudahan dalam hidup, sementara kekikiran justru mengantarkan pada kesukaran. Dalam skala yang lebih luas, semangat berbagi ini tidak hanya memperkuat ikatan persaudaraan di tingkat lokal, tetapi juga menjadi perekat ukhuwah Islamiyah di level regional dan global.
Allah SWT semakin memperkuat motivasi kedermawanan dengan janji-Nya yang tak terbantahkan. Dalam Surah Saba' ayat 39, Allah berfirman:
Katakanlah: 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).' Dan barang apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya."_
Janji penggantian dari Allah inilah yang menjadi motivasi dahsyat bagi generasi awal yang dibangun Rasulullah SAW. Mereka mengimplementasikan nilai-nilai kedermawanan ini dalam kehidupan nyata dengan penuh keyakinan. Hasilnya sungguh revolusioner: meskipun dengan amal yang sederhana, mereka berhasil membangun peradaban agung yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, di mana tidak ada seorang pun yang kelaparan di tengah masyarakat yang kenyang. Tingkat kemiskinan di zaman Rasulullah SAW dan sahabat generasi awal menurun drastis!
Konsep memberi sejatinya juga diajarkan oleh berbagai peradaban lain sebagai cara untuk menjaga keseimbangan hidup. Namun, tantangan besar muncul di era kepemimpinan peradaban sekuler dan kapitalisme Barat saat ini. Dalam sistem yang materialistis ini, pemberian atau sedekah yang ikhlas seringkali terpinggirkan karena selalu diukur dengan kinerja dan efek kapitalisasi langsung terhadap pencapaian aset. Ukuran keberhasilan bergeser dari meraih keberkahan menjadi sekadar akumulasi kekayaan material, sehingga nilai-nilai luhur kedermawanan perlahan tergerus.
Padahal, potensi sedekah pada bulan Ramadan sangatlah luar biasa. Umat Islam berlomba-lomba melipatgandakan amal kebaikan di bulan penuh berkah ini. Namun, potensi besar ini membutuhkan pengelolaan yang lebih baik. Peningkatan manajemen sedekah harus terus dibenahi agar dapat melahirkan kohesivitas sosial yang baik di tengah masyarakat yang semakin egois akibat pengaruh kapitalisme sekuler. Dengan tata kelola yang transparan, profesional, dan tepat sasaran, kedermawanan umat di bulan Ramadan tidak hanya akan menjadi ritual tahunan, tetapi benar-benar menjadi solusi nyata bagi problem sosial kemasyarakatan. Inilah esensi Puasa Bulan Kedermawanan: sebuah momentum untuk mengukir solidaritas dan meraih keberkahan, sekaligus membangun peradaban yang lebih manusiawi di tengah tantangan zaman.
7 Ramadhan 1447