Oleh Ust Mulyadi Kasim
Memperbaiki Diri Menuju Husnul Khatimah
Mengawali tausiah, beliau mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan. Setiap manusia pasti akan kembali kepada Allah. Hal ini ditegaskan dalam , di antaranya dalam Surah Al-Insyiqaq ayat 6, bahwa manusia akan bersusah payah menuju Tuhannya dan pasti akan menemui-Nya.
Harapan setiap mukmin tentu ingin kembali dalam keadaan diridhai Allah, sebagaimana gambaran indah dalam Surah Al-Fajr ayat 27–30 tentang jiwa yang tenang (an-nafs al-muthma’innah), yang dipanggil untuk masuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah dan ke dalam surga-Nya.
Prinsip Hidup: Hari Ini Harus Lebih Baik dari Kemarin
Tema besar yang disampaikan adalah pentingnya perubahan diri. Seorang muslim tidak boleh stagnan. Dalam sebuah ungkapan hikmah disebutkan:
Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, ia termasuk orang yang beruntung.
Siapa yang hari ini sama dengan kemarin, ia termasuk orang yang merugi.
Siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, ia termasuk orang yang celaka.
Ramadan adalah momentum terbaik untuk memperbaiki kualitas diri secara menyeluruh: hati, pikiran, ucapan, perbuatan, hingga kebiasaan.
Membersihkan dan Menghidupkan Hati
Perubahan sejati bermula dari hati. Hati yang dipenuhi penyakit—seperti iri, dengki, riya, dan kesombongan—akan memengaruhi ucapan dan perilaku. Sebaliknya, hati yang bersih akan memancarkan kebaikan.
Karena itu, hati perlu diisi dengan: 1.Tauhid yang murni 2.Iman yang kuat 3. Rasa syukur 4.Dzikir kepada Allah Dalam Surah Al-Anfal ayat 2–4 dijelaskan bahwa orang beriman adalah mereka yang bergetar hatinya ketika nama Allah disebut, bertambah imannya saat dibacakan ayat-ayat-Nya, mendirikan shalat, dan menafkahkan rezeki yang diberikan Allah. Mereka itulah orang-orang beriman yang sejati; diangkat derajatnya, diampuni dosanya, dan diberi rezeki yang mulia.
Allah juga menegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 139 agar kaum mukmin tidak bersikap lemah dan bersedih hati, karena merekalah yang paling tinggi derajatnya jika benar-benar beriman.
Memperbaiki Kualitas Ibadah
Perbaikan diri berikutnya adalah meningkatkan kualitas ibadah. Setiap hari dalam shalat kita berikrar:
“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Ikrar ini harus diwujudkan dalam kesungguhan ibadah dan ketergantungan total kepada Allah. Ramadan melatih keikhlasan, kesabaran, dan konsistensi dalam beramal.
Meninggalkan Perbuatan Sia-Sia
Perubahan juga berarti meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dalam Surah Al-Mu’minun ayat 3 disebutkan bahwa ciri orang beriman adalah menjauhi perbuatan sia-sia (laghwun).
Ramadan mengajarkan bahwa setiap detik kehidupan bernilai ibadah. Waktu tidak boleh terbuang tanpa makna. Seorang mukmin hendaknya produktif dalam amal saleh, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan melakukan kebaikan sosial.
Menuju Akhir yang Indah
Tujuan akhir dari seluruh perbaikan diri adalah meraih husnul khatimah—akhir kehidupan yang baik—serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Perubahan yang konsisten, hati yang bersih, iman yang kokoh, ibadah yang berkualitas, dan meninggalkan hal sia-sia adalah jalan menuju keridhaan Allah.
Semoga Ramadan ini benar-benar menjadi titik balik perubahan diri, sehingga ketika saat kembali itu tiba, kita termasuk hamba yang dipanggil dengan penuh kemuliaan:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.”