JAKARTA UMMATTV.COM — Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), menilai serangan militer Israel ke Iran merupakan rangkaian eskalasi panjang yang berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah serta berdampak langsung pada stabilitas global dan Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan UBN dalam wawancara Breaking News “Israel Serang Iran” yang disiarkan iNews TV, Sabtu (28/2/2026).
UBN mengatakan, ketegangan yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan Amerika Serikat terhadap Iran dalam beberapa waktu terakhir serta provokasi yang dituduhkan kepada Israel.
Menurutnya, serangan udara dan rudal besar-besaran yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat menjadi kelanjutan dari peristiwa-peristiwa sebelumnya.
“Serangan ini adalah rangkaian dari serangan-serangan sebelumnya. Situasinya memang sudah memanas,” ujar Pimpin Perkumpulan AQL itu.
Ia mengutip laporan intelijen dan media internasional yang menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah dipindahkan dari Teheran ke lokasi yang lebih aman sesaat sebelum serangan dimulai. Namun, ia menegaskan sejumlah informasi tersebut masih menunggu konfirmasi resmi.
UBN menyebut Iran tidak tinggal diam dan telah meluncurkan gelombang rudal balistik sebagai respons. Sirene dilaporkan terdengar di Tel Aviv. Selain itu, terdapat laporan rudal Iran menyasar pangkalan Al-Udeid di Qatar, meski belum ada kepastian resmi mengenai hal tersebut.
Ia juga menyampaikan bahwa Israel menetapkan status darurat nasional selama 48 jam dan meminta warga berada dekat ruang perlindungan. Penutupan wilayah udara oleh Israel, Iran, dan Irak turut memperkeruh situasi dan berdampak pada penerbangan internasional.
Gangguan komunikasi dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Iran. Ledakan dan sirene juga disebut terdengar di Yordania, Bahrain, hingga Abu Dhabi, menandakan luasnya skala konflik.
UBN turut menyinggung pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyerukan rakyat Iran mengambil alih pemerintahan setelah operasi militer selesai. Menurutnya, hal itu mengindikasikan adanya tujuan perubahan rezim.
Selanjutnya, menurut UBN, konflik di Timur Tengah hampir selalu berkaitan dengan perebutan pengaruh dan kepentingan energi. Dampaknya terhadap Indonesia dinilai signifikan, terutama pada sektor energi dan stabilitas ekonomi.
Ia memperingatkan kenaikan harga minyak dunia berpotensi menekan APBN melalui peningkatan subsidi BBM serta memicu pelemahan rupiah dan inflasi. Selain itu, sektor penerbangan, khususnya perjalanan umrah dan haji, juga berpotensi terganggu akibat penutupan wilayah udara.
UBN juga menyoroti peran Cina di forum internasional yang konsisten menolak ancaman militer terhadap Iran dan berkepentingan menjaga stabilitas jalur energi global, termasuk Selat Hormuz. Menurutnya, dinamika geopolitik ini akan berpengaruh dalam jangka panjang terhadap tatanan diplomatik global.
UBN mendorong pemerintah Indonesia tetap konsisten dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif di tengah tekanan global. Ia menyarankan sejumlah langkah antisipatif, antara lain diversifikasi sumber impor minyak dari kawasan yang lebih stabil, peningkatan cadangan penyangga energi nasional, serta percepatan transisi energi terbarukan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya mitigasi fiskal dalam APBN, intervensi moneter untuk menjaga stabilitas rupiah, serta perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di kawasan terdampak melalui penyiapan rencana kontinjensi evakuasi.
“Ketahanan energi, stabilitas ekonomi, dan keselamatan WNI harus menjadi prioritas utama pemerintah dalam situasi seperti ini,” kata UBN.