Workshop Kehumasan Wahdah Sulsel Disiapkan Jadi Role Model Nasional

Workshop Kehumasan Wahdah  Sulsel Disiapkan Jadi Role Model Nasional

Oleh: Sopian Bageur, Marcomm Expert 25 Tahun


MAKASSAR  UMMATTV.COM — Workshop Kehumasan DPW Sulawesi Selatan di Hotel UIN Alauddin tidak sekadar menjadi agenda rutin peningkatan kapasitas, tetapi dirancang sebagai laboratorium pembelajaran strategis bagi penguatan humas, media, dan brand organisasi.berlangsung Sabtu–Ahad (31 Januari–1 Februari 2026).

Ditemui media dalam sela-sela penyampaian materi hari kedua, Sopian Bageur  praktisi marketing communication dengan pengalaman lebih dari 25 tahun,  jelaskan bahwa metode workshop kali ini sengaja dibuat berbeda dibanding pelaksanaan di wilayah lain.

Sisipkan gambar ...

Menurutnya, Sulawesi Selatan memiliki potensi kader yang besar sekaligus menjadi embrio penting bagi pertumbuhan Wahdah Islamiyah di kawasan timur Indonesia.

Sebelumnya workshop kehumasan telah dilaksanakan di Sembilan DPW Wahdah Islamiyah. Diantaranya DPW DKI Jakarta Depok, DPW Jawa Barat ,DPW Banten. DPW Yogyakarta,DPW Jateng, DpW Jatim, DPW Sultra dan DPW Gorontalo.

Sisipkan gambar ...

Sopian menyampaikan “Karena itu, saya berharap hasil workshop DPW Sulsel ini bisa menjadi barometer, bahkan role model, bagi wilayah-wilayah lain,” ujarnya.

Metode Pembelajaran Berbaosis Pengalaman

Sopian menerapkan tiga pendekatan utama dalam workshop ini, yakni experiential learning, interaktif, dan simulatif.

Peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diajak terlibat langsung dalam diskusi kelompok, simulasi kasus, dan perumusan solusi berbasis pengalaman lapangan.

Menurutnya, durasi kegiatan yang memadai memungkinkan peserta benar-benar masuk dalam proses simulasi yang bermakna. “Simulatifnya bukan sekadar latihan, tapi benar-benar disusun agar bermanfaat dan aplikatif di daerah masing-masing,” jelasnya.


Studi Kasus Nyata dari Lapangan

Keunikan lain workshop ini terletak pada penggunaan studi kasus riil yang dialami oleh peserta di wilayah masing-masing, bukan kasus umum yang bersifat hipotetik. Melalui diskusi kelompok, peserta diminta merumuskan rekomendasi strategis yang lahir dari realitas lapangan.

“Objektifnya bukan hanya memahami humas, media, dan brand secara konsep, tetapi bagaimana peserta sendiri mampu menghasilkan solusi yang relevan dan kontekstual,” tambahnya.

Sopian menegaskan bahwa workshop ini bukanlah titik akhir, melainkan titik awal dari rangkaian pembinaan berkelanjutan. Ke depan, akan ada workshop lanjutan yang lebih mendalam, khususnya pada aspek kehumasan, media, dan branding organisasi.

“Ini bisa menjadi starting point untuk wilayah lain. Harapannya, Sulawesi Selatan dapat menjadi contoh praktik baik dalam pengelolaan komunikasi organisasi yang profesional, terstruktur, dan berdampak,” pungkasnya.

Sisipkan gambar ...

Sebelumnya :