Radja M Noor : Observasi kami selama 14 tahun, bahaya penghancuran karakter dari kebiasaan orang mencari informasi singkat dari Rells, Story dan Short,.
Dunia semakin ramai, kita akan senantiasa mudah menjumpai orang dimana dalam kondisi miskin, koq disertai kebodohan kebodohan dalam caranya melihat, menyikapi, menafsirkan ragam issu permasalahan berfokus pada kepuasan rasa & perasaan sendiri saja. Tidak itu saja yang nampak dikesehariannya, high tensi dalam diskusi juga menjadi dimensi kehidupanya sehari hari. Marah dan jadi pemarah bukan lagi menjadi situasional yang harus di tunda, melainkan menjadi hal yang harus dilakukan sesegera mungkin.
Inilah Brainrot, yang kata teman saya, Abun namanya, punya arti "kebusukkan otak".
Tahun 2010 kami menemukan fenomena ini saat jelang pilkada DKI jakarta. Bukan saja tontonan di Tv nasional yang banyak menyajikan dialog dialog perdebatan calon pengurus pemerintahan. Kisruh dramatikal artis juga mewarnai dimensi high tensi, Ucapan ucapan yang keluar dari pengacara yang mewakili artis atau selebriti yang bersengketa juga seakan akan mewakili lifestyle penuh kemewahan, kepintaran dan budi pekerti yang baik.
Berita berita dan informasi yang disajikan banyak dalam bentuk clip singkat di media sosial, seperti reels, story dan shorts movie. Dari beberapa orang yang menggemarinya diawal tahun 2010, ditahun 2025 hampir 98% orang yang kita jumpai dengan gadget di depan matanya, Yang di lihat hanya reels, story, dan shorts movie. Bukan sebagai wadah pengisi waktu luang istirahat sekolah, kerja, dan aktifitas rutin harian, Sampai di tempat tidur pun banyak diantaranya menggunakan reels, story dan shorts sebagai subyek pengantar tidur.
Apakah kita salah satu nya ?
Apakah anggota keluarga kita menjadi bagian dari kebiasaan itu, lebih gemar scroll reels, story atau shorts ketimbang berdiskusi dalam berdinamika sosisal ?
Jika kita atau seseorang punya rasa "butuh" akan hal ini, inilah yang menyebabkan cara otak kita yang kodratnya sebagai wahana penuntun kebijaksanaan dari keputusan keputusan yang kita buat dikehidupan, beralih fungsi sebagai alat untuk kita lihai dalam beragumentasi. Otak yang dalam kodrat tugasnya sebagai alat menganalisa, menimbang, merenungkan, memikirkan ragam efeknya, berubah menjadi mesin penguat dari egoisme, personal sentralistik dan ambisi.
Enggan atas detail atau penjelasan lengkap yang tersaji panjang dari buku buku atau materi kelas belajar, membuat informasi informasi pendek dari reels, story dan shorts menjadi ilmu yang benar dan pasti bagi pecandunya. Semakin banyak informasi dari reels, story dan shorts yang diserap, dan tidak tersalurkan dengan baik, membuat kebusukkan diotak seseorang, Karena apa yang busuk dikepala seseorang busuk pula yang dikerjakannya.
Cara memastikan ikan segar atau busuk, cukup dilihat kepalanya.
Brainrot membuat mental defensif dan ofensif bekerja secara bersamaan, seseorang dengan brainrot mampu melakukan pertahanan argumentasi sekaligus juga melakukan penyerangan terhadap argumentasi lawannya dengan cara yang khas dan sama, high tensi, atau saya menyebutnya bernada tinggi. Pokoknya ngebacot dengan bernada keras, kencang dulu saja, perkara diterima atau tidak pokoknya bersuara keras saja dulu. Agar terlihat sebagai si kaya, si pandai dan si berbudi luhur.
Miskin itu bukan diartikan sebagai kurangnya meteri, orang dengan brainrot bermental miskin bukan karena mereka tidak punya uang, akan tetapi mereka merasa TIDAK PUNYA PELUANG. Bodoh pun demikian, seseorang dengan brainrot menjadi bodoh bukan karena mereka tidak punya wawasan, mereka hanya sibuk mencari alasan dan asik dengan kemalasan. Wawasan informasi yang didapat dari reels, story dan shorts seakan akan sudah mewakili wawasan mereka. Uniknya mereka tidak ragu untuk merepost atau meneruskan infomasi informasi dari reels, story dan shorts tadi kebanyak orang untuk mempertebal rasa percaya diri didepan banyak orang. Ajaib bukan !!
Marah dan jadi pemarah juga perilaku untuk menutupi rasa kesalahan yang dibuatnya sendiri. Untuk menutupi sedikitnya informasi dan kebenaran yang dimiliki, bahkan untuk memperlihatkan superioritasnya sekalipun dalam keadaan miskin dan bodoh. Pokoknya bengok bengok (teriak dalam boso jawa) saja dulu, untuk menunjukkan jati dirinya.
Turun naiknya kondisi kehidupan kita adalah hal yang alami dialami seseorang, akan tetapi orang dengan brainrot, kami mendapatinya secara perlahan dan pasti, kehidupannya cenderung menurun dan rusak. Cara kerja otak yang rusak dan membusuk, akibat "mengkonsumsi" reels, story dan shorts berlebih, membuat anak menjadi lebih berani melawan dengan lebih mempertahankan ambisi, egoisme dan kemalasan. Seorang istri lebih berani mengajukan proposal perceraian di KUA, Suami semakin kehilangan wibawa dan kepercayaan dirinya, Seorang ayah yang lebih asik membuat pernyataan pernyataan emosional, Murid semakin heboh dengan literasi minim pengetahuannya, Guru guru sibuk dengan validasi validasi aksi, dan banyak lagi dimensi dinamika fenomena kerusakkan perilaku saat ini, semua bermula hanya dengan berasik ria scrool reels, story dan shorts.
Kekacauan perilaku ini uniknya juga menyambung rasa senasib dari brainroter, Mereka membuat komunitas yang saling menguatkan satu dengan lainnya, Seperti getok tular, bahkan orang normal yang ikut bergabung dengan orang orang dengan brainrot mudah untuk terpapar.
Brainrot bukan bakteri apalagi virus, namun dampak yang ada akan senantiasa membuat kehancuran di kehidupan seseorang.
Stop Reels, Story & Shorts.
Sini duduk sampinga aku.