Memulai Usaha dan Menangkap Peluang Pasar di Era Digital (Bagian 2)

Memulai Usaha dan Menangkap Peluang Pasar di Era Digital (Bagian 2)

Sopian Bageur: Kesuksesan usaha bukan hanya tentang ide cemerlang, tapi juga memahami kebutuhan pasar, menciptakan tren, dan menawarkan produk atau jasa sesuai harapan konsumen.

Oleh : Sopian Bageur

Memulai usaha memang bukan perkara mudah, tetapi bisa menjadi peluang besar jika kita memahami kebutuhan pasar dan cara mengemas komunikasi yang tepat. Seperti yang disampaikan sebelumnya, pemahaman tentang NIP (Niat, Identifikasi, dan Pasar) serta memilih media yang tepat adalah kunci utama dalam meraih kesuksesan. Namun, untuk benar-benar menguasai pasar, kita harus lebih memahami DEMAND (Demand, Supply, dan Gap) yang berlaku di pasar.

Saat kita berbicara tentang demand atau permintaan, ada banyak faktor yang mempengaruhi kebutuhan konsumen. Misalnya, saat musim hujan tiba, permintaan terhadap produk seperti payung akan meningkat. Ini adalah contoh nyata bagaimana kita bisa mengidentifikasi kebutuhan pasar dan kemudian menyediakan supply yang sesuai. Dengan kata lain, kita harus melihat fenomena yang sedang terjadi di masyarakat dan berpikir bagaimana cara memberikan solusi melalui produk atau jasa yang kita tawarkan.

Namun, kesalahan yang sering terjadi adalah terlalu terburu-buru dalam memilih ceruk pasar. Banyak pelaku usaha yang langsung meluncurkan produk tanpa melakukan riset yang cukup. Pada akhirnya, mereka terjebak dalam fenomena "trend yang cepat berlalu" yang hanya mendatangkan perhatian sementara, namun tidak menghasilkan keuntungan jangka panjang. Di sinilah pentingnya untuk tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga menciptakan tren yang dapat mempengaruhi pasar secara lebih mendalam.

Menyasar Pasar yang Tepat: Gen Z dan Karakteristiknya

Salah satu kelompok yang sering menjadi perhatian dalam dunia usaha adalah Generasi Z (Gen Z). Gen Z merupakan kelompok usia yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka cenderung tidak suka diatur dan lebih suka diberikan kebebasan untuk berekspresi. Mereka lebih memilih untuk mencoba hal-hal baru yang tidak hanya tren tetapi juga memiliki nilai yang mereka yakini.

Namun, bagi pelaku usaha yang ingin menyasar Gen Z, penting untuk memahami dua hal: loyalitas dan daya beli. Meskipun Gen Z cenderung loyal terhadap produk yang mereka sukai, loyalitas mereka bisa cepat berkurang jika ada produk baru yang lebih menarik di pasaran. Di sisi lain, daya beli mereka terbatas, sehingga keputusan pembelian seringkali didorong oleh kebutuhan praktis dan nilai ekonomis.

Bagi pelaku usaha yang ingin membidik pasar ini, penting untuk menawarkan produk yang tidak hanya sesuai dengan kebutuhan mereka, tetapi juga memiliki kualitas yang tinggi. Gen Z lebih tertarik pada produk yang berkualitas dan berbeda dari yang lain. Oleh karena itu, menciptakan produk yang memiliki Unique Selling Point (USP) atau nilai tambah yang tidak dimiliki produk lain sangat penting untuk menarik perhatian mereka.

Membentuk Pasar: Menciptakan Tren dan Menjadi Trendsetter

Ketika membangun bisnis, jangan hanya terfokus pada produk yang sedang tren. Jika kita mengikutinya, kita bisa menjadi bagian dari pasar yang sementara dan cepat hilang. Sebaliknya, jika kita bisa menciptakan tren, kita akan menjadi trendsetter yang dapat memimpin pasar, bukan sekadar mengikuti.

Untuk menjadi trendsetter, kita harus memiliki produk yang memiliki USB yang jelas. USB (Unique Selling Benefit) adalah keuntungan atau nilai lebih yang dimiliki produk kita dibandingkan dengan produk pesaing. Dengan USB yang kuat, kita bisa menciptakan produk yang diinginkan pasar, bahkan sebelum pasar tersebut menyadari apa yang mereka butuhkan.

Sebagai contoh, mari kita lihat industri makanan yang selalu berkembang. Makanan seperti mie kekinian atau restoran dengan konsep unik bisa menciptakan fenomena baru yang menarik perhatian banyak orang, terutama Gen Z yang selalu mencari pengalaman baru. Namun, perlu diingat bahwa dalam menciptakan tren ini, kita harus mempertimbangkan faktor kualitas dan kemasan yang menarik untuk pasar.

Menjual Jasa: Fokus pada Layanan dan Kecepatan

Tidak hanya produk fisik yang bisa dijual, tetapi juga jasa. Namun, dalam menjual jasa, ada dua aspek yang harus diperhatikan untuk memastikan bisnis berjalan lancar dan memuaskan pelanggan, yaitu layanan (service) dan kecepatan (speed).

Dalam dunia jasa, pelayanan yang ramah dan responsif akan membuat pelanggan merasa dihargai dan puas. Kecepatan dalam merespons juga sangat penting karena pelanggan sangat menghargai waktu mereka. Jika pelayanan yang diberikan cepat dan memuaskan, pelanggan akan kembali dan bahkan merekomendasikan jasa kita kepada orang lain.

Sebagai contoh, ketika kita makan di restoran, kita akan merasa lebih nyaman jika pelayanannya cepat dan ramah. Kita akan merasa dihargai jika pelayan segera menyambut kita dan membantu memilih menu. Kecepatan dalam memberikan pelayanan ini dapat menjadi keunggulan kompetitif yang membedakan bisnis kita dari pesaing.

Kesimpulan

Memulai usaha membutuhkan pemahaman mendalam tentang pasar yang ingin kita tuju. Dengan memahami NIP dan DEMAND, kita bisa menentukan produk yang tepat untuk disediakan dan memilih ceruk pasar yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jangan terjebak pada tren yang hanya berlangsung sementara, tetapi usahakan untuk menciptakan tren yang bisa mendominasi pasar dalam jangka panjang.

Selain itu, dengan memahami karakteristik pasar yang ingin kita bidik, seperti Gen Z, kita bisa menyusun strategi yang tepat dalam menawarkan produk dan jasa. Untuk produk, pastikan ada USP yang membedakan produk kita dari pesaing. Sedangkan untuk jasa, fokus pada layanan yang ramah dan kecepatan dalam pelayanan akan menjadi nilai tambah yang besar.

Pada akhirnya, kesuksesan dalam memulai usaha bukan hanya tentang ide cemerlang, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memahami kebutuhan pasar, menciptakan tren, dan menawarkan produk atau jasa yang sesuai dengan harapan konsumen.


Bagian 1 dari dua tulisan : https://ummattv.com/post/3-kesalahan-umum-dalam-memulai-usaha-dan-cara-menghindarinya-bagian-1



Sebelumnya :