MS Ka'ban dalam ceramah mengingatkan pentingnya merespons datangnya Ramadan dengan kesungguhan.
Masjid Al I’tisham Budi Agung, Bogor – Kamis, 19 Februari 2026
Ramadan dan Proses Menjadi Manusia Berkualitas
Ustadz MS Ka’ban mengawali ceramah dengan mengingatkan pentingnya merespons datangnya Ramadan dengan kesungguhan. Setiap orang memiliki cara dan perasaan masing-masing dalam menyambut bulan suci. Namun pertanyaannya, sejauh mana respons itu mendekati cara para sahabat Rasulullah ﷺ dalam memuliakan Ramadan? Ramadan adalah proses pendidikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setiap muslim—baik bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, hingga para lansia—sedang diproses untuk mencapai predikat manusia yang diinginkan Allah. Predikat itu adalah derajat takwa, derajat tertinggi di sisi Allah.
Orang yang paling mulia di hadapan Allah adalah yang paling taat menjalankan perintah-Nya. Ramadan menjadi sarana latihan agar manusia mampu meningkatkan kualitas ketakwaannya.
Puasa dan Pengendalian Hawa Nafsu
MS Ka’ban menegaskan bahwa salah satu alasan diwajibkannya puasa adalah karena manusia cenderung mengikuti hawa nafsu. Banyak kerusakan dalam kehidupan pribadi maupun peradaban terjadi karena manusia mempertuhankan hawa nafsunya.
Segala sesuatu yang lebih dipentingkan daripada Allah—baik keinginan, norma, maupun kepentingan duniawi—itulah yang menjadi “ilah” (sesembahan) selain Allah. Ketika manusia menuruti hawa nafsunya tanpa kendali, maka kehancuran menjadi konsekuensinya.
Ramadan hadir untuk melatih pengendalian diri. Lapar dan dahaga bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi latihan menahan amarah, syahwat, dan dorongan negatif lainnya. Puasa adalah sarana mendidik jiwa agar tidak dikuasai hawa nafsu.
Al-Qur’an sebagai Panduan Hidup
Di bulan Ramadan, umat Islam diperintahkan memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an. Hal ini bertujuan agar manusia kembali mengingat pedoman hidupnya. Al-Qur’an adalah petunjuk utama dalam menjalani kehidupan.
Beliau mengingatkan bahwa kesuksesan sejati tidak bisa dilepaskan dari kedekatan dengan Al-Qur’an. Ramadan menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan kitab suci: bagi yang belum lancar membaca, pasang target untuk memperbaikinya; bagi yang sudah lancar, tingkatkan kualitas dan kuantitas tilawah.
Belajar dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
MS Ka’ban juga menggambarkan suasana Ramadan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Jutaan jamaah bertahan di masjid, melaksanakan tarawih, qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, dan berburu Lailatul Qadar. Mereka rela menekan hawa nafsu demi meraih kesempatan terbaik dalam hidupnya.
Semangat itulah yang seharusnya menjadi inspirasi. Ukuran keberhasilan membangun jamaah bukan hanya di awal Ramadan, tetapi terutama pada 10 hari terakhir. Apakah masjid semakin makmur atau justru semakin sepi?
Lailatul Qadar dan Puncak Ketakwaan
Lailatul Qadar menjadi puncak harapan setiap mukmin di bulan Ramadan. Namun untuk meraihnya, dibutuhkan kesungguhan dan pengendalian diri. Orang yang benar-benar bertakwa menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan.
Prinsip hidupnya sederhana: kepentingan utamanya adalah Allah, harapannya hanya kepada Allah, dan ketundukannya hanya kepada hukum-hukum Allah. Inilah makna sejati kalimat la ilaha illallah.
Ajakan Memakmurkan Ramadan
Di akhir tausiyah, Ustadz MS Ka’ban mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan. Mari akrab dengan Al-Qur’an, perbanyak zikir, dan makmurkan masjid hingga akhir Ramadan.
Jangan sampai Ramadan hanya berhenti di kepala sebagai pengetahuan, tetapi tidak menyentuh hati dan amal. Jika Ramadan dijalani dengan sungguh-sungguh, insyaAllah kita akan keluar sebagai pribadi yang lebih bertakwa dan lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah yang tidak terputus dan menutup usia kita dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.
Malam kedua Ramadan di Masjid Al I’tisham Budi Agung, Bogor, Kamis (19/2/2026), diisi tausiyah oleh Ustadz MS Ka’ban.