Pentingnya Semangat Berjamaah di Bulan Ramadhan

Pentingnya Semangat Berjamaah di Bulan Ramadhan

Kebiasaan berjamaah tidak hanya berlaku dalam ibadah mahdhah, tetapi juga dalam muamalah (hubungan sosial).

Oleh Prof .KH. Didin Hafiduddin

Alhamdulillah, kita telah memasuki bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan rahmat. Semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah Subhanahu wa ta ala   dan menjadi amal yang mendekatkan diri kepada-Nya. Bulan ini, kaum Muslimin merasakan semangat berjamaah yang luar biasa, baik dalam ibadah mahdhah (ritual) maupun muamalah sosial. Hampir semua aktivitas keagamaan, seperti salat berjamaah, buka puasa bersama, dan tadarus Al-Qur'an, dilakukan secara kolektif. Suasana masjid yang penuh dengan jamaah, terutama saat salat maghrib, isya, tarawih, dan tadarus, merupakan gambaran betapa kuatnya semangat kebersamaan di bulan yang mulia ini.

Semangat berjamaah ini harus kita pertahankan dan tingkatkan, bahkan setelah bulan Ramadhan berakhir. Dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks, kebersamaan menjadi kunci penting. Salah satu jawaban atas berbagai tantangan adalah dengan memperkuat semangat berjamaah, baik dalam kegiatan ibadah maupun sosial. Jika kita terus bertindak sebagai individu yang terpisah, tanpa keterikatan satu sama lain, maka tantangan yang ada akan terasa semakin berat. Namun, jika kita memperkokoh kebersamaan, segala masalah dapat lebih mudah dihadapi.

Dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu wa ta ala   mengingatkan kita tentang pentingnya berjamaah. Orang yang selalu berada dalam jamaah akan memiliki kekuatan batin dan keyakinan diri yang tinggi. Rasulullah Shallalhu alaihi wassallam  menjelaskan bahwa kekuatan umat Islam pada masa dahulu sangat berkaitan dengan kebiasaan berjamaah. Kaum Muslimin yang terbiasa salat berjamaah memiliki kekuatan yang luar biasa, baik fisik maupun mental. Hal ini terlihat jelas dalam surat Al-Fatihah, ayat terakhir, yang mengajarkan kita tentang sifat tegas terhadap orang yang tidak beriman, namun tetap lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesama orang beriman.

Melalui semangat berjamaah, kita bisa menciptakan kekuatan yang luar biasa. Di Turki, misalnya, masyarakatnya memiliki kebiasaan unik yang menginspirasi. Pada waktu subuh, mereka datang ke masjid sebelum salat, melakukan tadarus Al-Qur'an, dan berwirid bersama sebelum berangkat ke kantor. Mereka tetap rapi dengan mengenakan jas, namun tetap mengutamakan ibadah bersama. Hal ini menunjukkan bagaimana kebiasaan berjamaah dapat menciptakan kekuatan ekonomi, sosial, dan spiritual. Jika kebiasaan berjamaah ini dipertahankan, maka negara tersebut dapat menjadi kekuatan besar di dunia.

Selain itu, kebiasaan berjamaah tidak hanya berlaku dalam ibadah mahdhah, tetapi juga dalam muamalah (hubungan sosial). Banyak sekali aspek kehidupan yang harus kita jalani bersama, seperti dalam pendidikan dan ekonomi.

Allah Subhanahu wa ta ala  "Wahai orang-orang yang beriman, rukulah dan sujudlah, sembahlah Tuhanmu dan berbuat baiklah, agar kalian beruntung." (QS. Al-Hajj: 77). menegaskan bahwa kesuksesan dan kemenangan itu bergantung pada dua hal: ibadah yang dilakukan bersama (rukuk dan sujud) serta kebaikan sosial yang dilaksanakan secara berjamaah. Oleh karena itu, kita perlu meningkatkan kegiatan sosial yang dilakukan bersama, seperti membangun lembaga pendidikan yang berkualitas.

Pendidikan adalah kunci utama untuk mencetak generasi yang kuat. Dulu, banyak lembaga pendidikan yang dikelola oleh pihak non-Muslim dan kurang memperhatikan kualitas. Namun, saat ini banyak sekolah Islam yang menunjukkan kualitas luar biasa, bahkan mengalahkan sekolah-sekolah besar dunia. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mendukung lembaga pendidikan Islam yang berkualitas agar dapat mencetak kader-kader umat yang cerdas dan berakhlak mulia.

Tidak hanya pendidikan, sektor ekonomi juga perlu dibangun secara berjamaah. Islam mengajarkan kita untuk mencari rizki yang halal dan berkah. Ekonomi syariah memiliki tiga pilar utama: sektor riil (usaha dan jasa), lembaga keuangan syariah, dan lembaga zakat, infak, dan wakaf.

Masyarakat Muslim perlu mendukung perbankan syariah, asuransi syariah, dan kegiatan sosial yang berkaitan dengan zakat dan infak. Saat ini, sektor-sektor ini belum cukup berkembang, karena kurangnya partisipasi umat Islam. Oleh karena itu, kita perlu berkomitmen untuk mendukung ekonomi syariah demi kesejahteraan umat.

Selanjutnya, kesehatan juga merupakan aspek yang tidak kalah penting. Umat Islam harus memiliki lembaga kesehatan yang kuat dan berkualitas, dengan dokter-dokter yang berdedikasi tinggi. Ada baiknya juga jika layanan kesehatan tersebut dapat digratiskan bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama bagi kaum dhuafa (miskin). Konsep rumah sakit tanpa biaya yang pernah diterapkan di beberapa daerah merupakan contoh nyata dari kepedulian umat Islam terhadap sesama. Dengan menyediakan fasilitas kesehatan yang terjangkau, kita dapat memerangi kemiskinan dan menciptakan masyarakat yang sehat dan produktif.

Dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, umat Islam harus bekerja sama dan mendukung satu sama lain. Saat ini, negara kita menghadapi banyak tantangan ekonomi dan sosial. Meskipun keadaan tidak baik-baik saja, kita sebagai umat Muslim harus tetap memberikan kontribusi positif untuk membantu negara dan masyarakat. Dengan berpartisipasi aktif dalam memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial, kita akan menemukan solusi yang konstruktif untuk mengatasi berbagai masalah.

Akhirnya, mari kita manfaatkan momentum bulan Ramadhan ini untuk memperkuat kebersamaan dan semangat berjamaah. Semoga ibadah kita diterima oleh Allah Subhanahu wa ta ala   dan menjadi amal yang membawa keberkahan bagi kehidupan kita dan umat Islam secara keseluruhan. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan petunjuk-Nya untuk terus berjuang dalam kebaikan.


(Tulisan diatas dikutip dari intisari materi kuliah subuh Ramadhan ke 24, di masjid Al-I’tisham Budi Agung Bogor)

 

Sebelumnya :