Aming Tirta: Dari Dunia Profesional Menuju Pengabdian di Masjid Al I’tisham

Aming Tirta: Dari Dunia Profesional Menuju Pengabdian di Masjid Al I’tisham

Kisah hidup Aming Tirta pembina masjid Al Itisham Budi Agung menjadi teladan bahwa pengabdian tidak harus berhenti ketika seseorang pensiun dari dunia kerja.

BOGOR MASJID AL ITISHAM — Di usia 75 tahun, semangat Pak Aming Tirta dalam menuntut ilmu dan mengabdi kepada umat tetap menyala. Sesepuh Masjid Al I’tisham Budi Agung Bogor sekaligus santri lansia Al Iltihan ini dikenal sebagai sosok yang konsisten memadukan dunia profesional, akademik, dan dakwah dalam satu garis kehidupan yang utuh.

Lahir di Cisarua, Bogor, pada 1949, Pak Aming menapaki perjalanan hidup yang panjang sebelum akhirnya menetap di kawasan Perumahan Budi Agung Sukadamai Tanah Sareal Bogor.. Kepindahannya ke lingkungan tersebut tidak lepas dari pengaruh lingkungan religius yang kuat, khususnya kehadiran para tokoh berpendidikan yang aktif menghidupkan pengajian dari rumah ke rumah.

Sisipkan gambar ...

Salah satu sosok yang berpengaruh besar dalam fase hijrahnya adalah seorang ulama asal Jombang yang rutin mengisi pengajian dan menumbuhkan motivasi masyarakat untuk belajar agama Islam secara lebih serius.

Secara profesional, Pak Aming pernah bekerja di perusahaan swasta asal Inggris di bidang konveksi. Ia menutup masa kerjanya pada tahun 2005. Menjelang pensiun, semangat belajarnya justru semakin menguat. Ia melanjutkan pendidikan S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada program Magister Manajemen. Setelah lulus, ia ditawari mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kesatuan, dengan konsentrasi utama pada bidang akuntansi. Sejak 2005 hingga 2023, Pak Aming mengabdikan diri sebagai dosen selama kurang lebih 18 tahun.

Sisipkan gambar ...



Di tengah kesibukan akademik, Pak Aming juga terlibat aktif dalam pembangunan dan pengembangan Masjid Al I’tisham sejak awal 1990-an. Masjid ini dirintis bersama para cendekiawan dan tokoh masyarakat, di antaranya Prof. Dimyati, peneliti umbi-umbian di Departemen Pertanian, Prof. Syukur dan Prof Chairil Anwar Siregar yang pernah menjabat di Kementerian Pertanian, serta sejumlah akademisi lainnya. Pertemuan dan kolaborasi para intelektual ini menjadi fondasi kuat bagi tumbuhnya masjid sebagai pusat ibadah sekaligus pembinaan umat.

Puncak pengabdian struktural Pak Aming di masjid ditandai dengan amanah sebagai Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al I’tisham pada tahun 2012. Dalam peran tersebut, ia turut menguatkan sistem pengelolaan masjid dan memperluas fungsi masjid sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Usai menunaikan amanah sebagai ketua DKM, Pak Aming sempat menemani anaknya selama tiga bulan di Australia untuk menempuh studi S2. Sepulang dari sana, ia kembali aktif dalam kegiatan masjid dan pembinaan keagamaan, termasuk mengikuti majelis ilmu sebagai santri lansia di Al Iltihan.

Bagi Pak Aming, belajar agama tidak pernah mengenal batas usia, dan masjid adalah rumah utama bagi pembentukan karakter umat. (Kisah Santri Al Itisham Sesi berikutnya)

Kisah hidup Aming Tirta menjadi teladan bahwa pengabdian tidak harus berhenti ketika seseorang pensiun dari dunia kerja. Justru, masa tersebut dapat menjadi fase paling produktif untuk mendekat kepada Allah, menebar manfaat, dan menguatkan peradaban umat melalui masjid

Sebelumnya :