Ramadhan adalah bulan jihad, bulan Al-Qur'an, bulan kekuatan. Maka, di tengah gempuran rudal dan propaganda, jawaban atas pertanyaan "siapa takut?"
Oleh : Salas Aly Temur
10 Ramadhan 1447
Sabtu, 28 Februari 2026. Dunia dikejutkan oleh ledakan rudal yang menghantam Iran. Di bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, bulan yang seharusnya penuh berkah dan kedamaian, asap perang kembali mengepul di langit Timur Tengah. Serangan yang dilancarkan oleh negara zionis Israel dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat yang juga memanfaatkan pangkalan militer di negara-negarabteluk ini bukan sekadar konflik geopolitik biasa. Ia adalah sebuah pengulangan sejarah kelam, sebuah bukti nyata dari kebenaran firman Allah, dan sekaligus sebuah ujian besar bagi umat Islam di akhir zaman.
Tindakan Para Perusak Bumi dan Kontras Dua Karakter Perang
Perang, dalam perspektif Al-Qur'an, adalah buah dari ulah para perusak di muka bumi _(mufsiduna fil ardl)_. Allah SWT berfirman, _"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..."_ (QS. Ar-Rum: 41).
Serangan ke Iran, yang dibangun di atas argumen-argumen palsu (pengayaan uranium, tuduhan pembunuhan warga sipil, dan serangkaian klaim yang direkayasa) adalah wajah dari kerusakan itu sendiri. Mirip dengan narasi yang pernah dijatuhkan kepada Saddam Hussein dan Muammar Khadafi, dalih-dalih ini hanyalah topeng untuk membenarkan agresi.
Di sinilah kita melihat kontras yang sangat tajam antara dua konsep perang. Islam, melalui QS. Al-Hajj ayat 39-40, mengizinkan perang sebagai metode pertahanan diri yang sah, melindungi tempat-tempat ibadah dan kaum yang tertindas. Ini adalah perang yang defensif, beretika, dan bertujuan melindungi nilai-nilai kebenaran. Sebaliknya, apa yang dilakukan oleh koalisi Israel-AS adalah perang ofensif, sebuah tindakan ekspansi dan upaya melanggengkan hegemoni. Allah SWT telah mengabarkan karakter kaum seperti ini dalam QS. Al-Maidah ayat 64: _"Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Dan mereka berusaha berbuat kerusakan di muka bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."_
Dilema di Tengah Umat: Penggunaan Pangkalan Militer Negara Muslim Dan Konsekuensi Serangan Balasan Iran
Yang lebih memprihatinkan dan membuat kita sebagai umat Islam tercabik dalam dilema adalah fakta bahwa pangkalan-pangkalan militer yang digunakan untuk melancarkan agresi ini berada di jantung dunia Islam: Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Serangan dari Iran, yang pasti akan terjadi, tidak hanya akan mengenai Israel, tetapi juga negara-negara sesama muslim yang menjadi tuan rumah pangkalan asing tersebut. Bom yang dijatuhkan bisa jadi mengenai saudara sendiri. Di sinilah api perang yang dinyalakan oleh para perusak, berhasil membakar solidaritas dan menciptakan perpecahan di tubuh umat.
Membaca dengan Kacamata Akhir Zaman
Fenomena ini terlalu kompleks jika hanya dibaca dengan analisis kasat mata. Jika kita hanya melihat dari permukaan, kita akan terjebak dalam kebingungan dan perdebatan yang tak berujung, seperti kebingungan Nabi Musa AS ketika menyaksikan tindakan Nabi Khidir AS dalam Surat Al-Kahfi. Nabi Musa AS melihat perahu yang dilubangi, seorang anak yang dibunuh, dan tegaknya tembok yang nyaris roboh, sebagai perbuatan yang keliru. Namun, Khidir AS melihat dengan kacamata yang lebih dalam, filosofis, dan berorientasi masa depan.
Kita saat ini dituntut untuk memiliki "kacamata Khidir" dalam membaca realitas. Terutama karena fenomena ini adalah bagian dari skenario besar akhir zaman. Di era ini, akan hadir perusak-perusak besar (Proxy Ya'juj dan Ma'juj serta Dajjal) dengan tujuan tersirat yang sistemik:
1. Merampas Aset: Menguras kekayaan alam dan sumber daya umat dengan berbagai cara, termasuk perang, sanksi dan tekanan ekonomi.
2. Menghancurkan Loyalitas: Menanamkan keraguan, memecah belah, dan menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai kebenaran dan agamanya.
3. Membenci Kebenaran: Memerangi setiap upaya penegakan nilai-nilai ilahi dan memecah belah barisan kaum muslimin.
Sasaran para perusak ini adalah semua orang: orang-orang beriman, orang-orang lemah, dan mereka yang tenggelam dalam kenikmatan dunia tanpa prinsip yang kokoh.
Refleksi dan Sikap: Antara Prinsip, Kekuatan, dan Kesabaran
Lalu, apa yang harus dilakukan oleh seorang muslim? Bukankah kita seperti sedang menggenggam bara api dalam memegang prinsip iman di akhir zaman, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dalam HR. Muslim (921)? Memegang iman di tengah kekacauan seperti ini memang berat. Namun, dari kisah Nabi Khidir, kita bisa menarik pelajaran tentang sikap yang harus diambil:
1. Menyelamatkan Aset Umat: Tindakan Khidir melubangi perahu adalah untuk menyelamatkannya dari perampasan penguasa zalim. Dalam konteks kita, ini bisa berarti menjaga kemandirian ekonomi, memperkuat sumber daya internal, dan tidak membiarkan kekayaan umat dikuras. Sebagaimana yang sudah terjadi pada negara-negara petro dollar di Teluk dan negara muslim lainnya melalui penjajahan oleh Peradaban Barat selama ratusan tahun.
2. Membunuh Loyalitas kepada Kebatilan: Tindakan "membunuh" anak itu adalah untuk menyelamatkan kedua orang tuanya dari kesesatan di masa depan. Ini mengajarkan kita untuk secara tegas memutus tali loyalitas kepada sistem kafir dan para penjajah, serta membentengi generasi muda dari virus cinta dunia dan kebencian kepada kebenaran. Loyalitas yang mutlak dilarang oleh Allah sebagaimana QS AlMaidah (51) adalah loyalitas kepada Yahudi dan Nasrani yang beraliansi, karena secara generik mereka bertolak belakang. Aliansi Yahudi-Nasrani saat ini berwujud pada gerakan zionist.
3. Membangun Generasi Emas yang Tangguh: Tindakan menegakkan tembok untuk menyelamatkan harta anak yatim adalah investasi jangka panjang. Ini adalah panggilan bagi kita untuk terus membangun generasi mendatang yang kokoh imannya, cerdas, dan memiliki kekuatan, sehingga mereka kelak mampu menghadapi para pembenci dan perusak. Koalisi harus dibangun dengan kelompok yang respek dengan umat islam bukan serigala berbulu domba.
Serangan di bulan Ramadhan ini adalah tamparan keras yang menyadarkan kita. Ia adalah undangan untuk tidak lagi menjadi umat yang lemah, terpecah, dan hanya mampu meratap. Kaum muslimin, baik yang kaya maupun yang berkekurangan, adalah target. Yang mampu bertahan dan melawan bukanlah mereka yang hanya mengandalkan kekuatan fisik semata, tetapi mereka yang memiliki prinsip yang kokoh (iman), kekuatan (militer, ekonomi, ilmu pengetahuan), dan kesabaran yang tak terbatas dalam menghadapi tekanan para perusak akhir zaman.
Ramadhan adalah bulan jihad, bulan Al-Qur'an, bulan kekuatan. Maka, di tengah gempuran rudal dan propaganda, jawaban atas pertanyaan "siapa takut?" bukanlah semboyan kosong. Ia adalah tekad yang lahir dari pemahaman mendalam atas realitas, keyakinan teguh pada janji Allah, dan kesiapan untuk memainkan peran sejarah sebagai hamba-hamba-Nya yang tidak hanya menjadi korban, tetapi juga aktor yang ikut menentukan arah masa depan, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Khidir AS. Perang ini bukan akhir, tetapi mungkin awal dari kesadaran baru umat untuk bangkit. Terlebih wilayah Khurasan (Iran-Afghanistan-Pakistan) merupakan lokus para pejuang yang menjadi tulang punggung pemersatu umat di akhir zaman yakni Imam Mahdi.