Ramadhan: Bulan Latihan Ridho Atas Qodha dan Qodar dari Allah

Ramadhan: Bulan Latihan Ridho Atas Qodha dan Qodar dari Allah

Pelajaran dari Ramadhan generasi awal ini sangat relevan bagi kita. Seringkali, rencana indah yang kita susun  kandas oleh takdir Allah yang membawa kita pada ujian berat.

Oleh : Salas Aly Temu

9 Ramadhan 1447



Bulan Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga serta memperbanyak ritual ibadah. Ia adalah madrasah keimanan yang mengajarkan hamba untuk tunduk dan ridho terhadap setiap ketetapan Allah, baik yang tampak manis maupun yang pada awalnya terasa pahit. Sejarah agung Perang Badar yang terjadi pada Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah menjadi bukti paling nyata bagaimana ujian mampu mengubah perspektif, mengajarkan bahwa apa yang kita sangka buruk, boleh jadi adalah kebaikan yang tersembunyi.

Kisah ini bermula dari situasi politik yang tegang antara kaum muslimin di Yatsrib (Madinah) dengan kaum Quraisy di Mekkah. Di awal bulan Ramadhan, saat kewajiban puasa baru saja ditetapkan, Rasulullah SAW mendapat kabar tentang kafilah dagang besar pimpinan Abu Sufyan yang akan kembali dari Syam menuju Mekkah. Bagi Rasulullah, ini adalah momentum strategis. Selain dalam rangka konfrontasi politik yang sah akibat penyitaan aset kaum muslimin di Mekkah dan bentrokan militer yang terjadi satu bulan sebelumnya, langkah ini juga merupakan upaya ekonomi untuk menyeimbangkan kembali kekuatan yang telah dizalimi. Dengan sumber daya militer yang pas-pasan—hanya 313 pasukan dengan 70 ekor unta—mereka berangkat pada 8 Ramadhan dengan penuh optimisme meraih kemenangan ekonomi.

Namun, ketetapan Allah SWT sering kali tidak sejalan dengan perhitungan manusia. Abu Sufyan, dengan kecerdikannya, berhasil lolos dari sergapan dan mengirimkan utusan ke Mekkah. Datanglah pasukan besar di bawah pimpinan Abu Jahal dengan kekuatan 1.000 prajurit yang lengkap bersenjata. Alih-alih berhadapan dengan kafilah dagang yang tak siap tempur, pasukan muslimin justru harus berhadapan dengan pasukan perang terbaik Quraisy di lembah Badar pada 15 Ramadhan. Kaget dan sedih, seketika harapan kenenangan materi berubah menjadi beratnya ujian.

Di sinilah esensi "Ramadhan Berlatih Ridho" menemukan momentumnya. Peristiwa ini persis sebagaimana digambarkan Allah dalam QS. Al-Anfal ayat 7, bahwa mereka menginginkan sesuatu yang menguntungkan (kafilah dagang), tetapi Allah menghendaki pertempuran yang berat karena di dalamnya terkandung ujian keimanan dan kejayaan hakiki bagi agama-Nya. Ini sejalan dengan firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 216: _"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."_

Lalu, bagaimana Rasulullah SAW menyikapi situasi genting ini? Beliau tidak larut dalam kekecewaan. Di tengah ketidakpastian, di saat peperangan akan pecah, beliau justru menunjukkan sikap ridho yang tertinggi: pasrah total kepada Allah dengan menyiapkan konsolidasi pasukan sebisanya. Di momen-momen kritis itulah, Rasulullah berdiri teguh bermunajat dengan doa yang sangat memilukan, memohon pertolongan _(istighotsah)_ dengan penuh kerendahan hati. Sebagaimana dilukiskan dalam QS. Al-Anfal ayat 9, beliau berseru kepada Rabb-nya, dan Allah pun mengabulkannya.

Allah menjawab munajat Rasulullah dengan cara yang tak terduga: mengirimkan bala bantuan berupa seribu malaikat yang datang bergiliran, meneguhkan hati kaum muslimin, dan menanamkan rasa takut di hati musuh. Dari situasi yang hampir putus asa, berkat ridho dan kedekatan kepada Allah, kemenangan besar akhirnya berpihak kepada pasukan muslimin yang sedikit dan tidak dipersenjatai dengan lengkap.

Pelajaran dari Ramadhan generasi awal ini sangat relevan bagi kita. Seringkali, rencana indah yang kita susun (seperti meraih kafilah dagang) kandas oleh takdir Allah yang membawa kita pada ujian berat (seperti perang Badar). Terlebih lagi di akhir zaman, upaya manis kaum muslimin akan senantiasa digagalkan oleh para perusak bumi yang agnostik, musyrikin bahkan atheis seperti para pemuja ideologi Ba'al ( Eipstein grup). Di situlah letak latihan ridho: meyakini bahwa apa pun yang Allah tetapkan, meskipun pahit di awal, adalah yang terbaik untuk kita. Ramadhan mengajarkan untuk tetap optimis dalam ikhtiar, terus berdoa dengan sungguh-sungguh, bersabar dan percaya bahwa pertolongan Allah akan datang pada waktunya, dengan cara yang mungkin tidak pernah kita duga. Dari Badar kita belajar, bahwa kemenangan sejati lahir dari keridhoan menerima ketetapan-Nya.



Sebelumnya :
Selanjutnya :